Diam-Diam Cinta - Saifullah

Diam-Diam Cinta

"Ngapain lu senyum-senyum sendiri Ay?" Tanya Rika dengan tiba-tiba buyarkan lamunan Aya.
.
"Haduh Ka, kenapa dia bisa semanis itu ya, lama-lama gue bisa kena diabetes" jawab Aya, sambil terus memandang ke arah Dewa.

.
"Ah, lebay lu Ay, udah bertahun- tahun lu pandangin dia, lu sehat-sehat aja tuh" sahut Rika.

.
Dari sejak kelas satu SMP hingga empat tahun berlalu Aya masih saja melakukan kebisaan yang sama saat jam istirahat, duduk di kantin sekolah hanya untuk diam -diam memandangi Dewa yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.

.
"Haloo kalian bedua, lagi apah?," tiba-tiba Fery datang dengan tingkah gemulainya duduk di samping Aya, " Ah lagi-lagi si Dewa, ga bosen apa lihatin dia tiap hari?" lanjutnya.

.
"Fer lihat !, Dewa ketawa. Aduh perasaanku jadi ga karuan gini" sahut Aya, sambil tanpa sadar meremas-remas buku catatan matematikanya

.
"Sadar, Ay sadaar," sahut Fery sambil mencubit pipi Aya, sontak Ayapun kesakitan.
.
"Ay, sampai kapan lu mau begini terus, bisa gila lu" kata Rika
.
"Terus gue mesti gimana lagi, gue bener-bener suka sama dia" jawab Aya.
.
"Ungkapin perasaan kamu ke dia, dong"
.
Mendengar perkataan Fery wajah Aya menjadi tidak bersemangat, lalu meletakkan kepalanya di atas meja kantin sambil menghela nafas dan terlihat pasrah.
.
"Ah tingkah kamu bener-bener bikin aku sebel, sebeeel," sahut Fery
.
"Kan lu tau Fer kalau si Aya tuh penakut, ga bakal lah dia berani" tambah Rika
.
Lalu sontak Aya mengangkat kepalanya, dan memandang kedua temannya dengan kesal.
.
"Udah deh jangan pada berisik, biarin begini aja gue udah seneng kok, walau cuma bisa lihatin dia dari jauh, udah bisa bikin gue bersemangat, rasa-rasanya kayak habis minum vitamin C 10.000mg aja gue, apalagi kalau papasan sama dia duh, jantung gue rasanya berdetak lebih kenceng dari suara bedug masjid"
.
"Segitu parahnya penyakit lu Ay, emang lu pikir selamanya lu akan bisa ketemu sama dia?" Sahut Rika
.
"Iya bener, kalau penyakit kamu makin tambah parah baru tau rasa, sakit karena cinta tuh ga ditanggung sama BPJS tau ga?" sahut Fery kesal sambil mengkibas-kibaskan kipas kecil bergambar pokemon yang sering dibawanya.
.
Ayapun hanya menghela nafas pasrah.
.
"Eh Ay lihat tuh" sahut Rika.
.
Terlihat, Diana teman satu kelas Dewa sedang menghampiri Dewa.
.
Ayapun menoleh, lalu wajahnya berubah seketika saat melihat Diana duduk disamping Dewa.
.
"Tuh kan, haha kayaknya bakal ada yang opname nih" sahut Fery
.
Sementara Aya masih saja terus memandang mereka tanpa berkedip.
.
Mereka nampak begitu akrab, lalu tiba-tiba Diana menggeser tempat duduknya lebih mendekat kepada Dewa, sontak wajah Aya pun semakin tegang.
.
"Ay, udah jelas tu kalau si Diana ada maksut sama Dewa, dia bakal ngerebut Dewa dari elu" kata Rika
.
Mendengar itu Aya terlihat semakin kesal, pandangannya terus tertuju pada Diana, sambil mengepal-ngepalkan tangannya yang masih menggenggam buku matematika.
.
Dan tak lama setelah itu wajah Aya semakin geram melihat Diana tertawa-tawa disamping Dewa, terlihat manja sambil memegang lengan Dewa.
.
Akhirnya buku matematika Aya pun terlihat benar-benar koyak, wajah Fery dan Rika ikut tegang melihat wajah Aya yang semakin memerah terbakar api cemburu.
.
"Tu cewek kecentilan banget, gue berani bertaruh kalau cinta gue buat Dewa lebih besar dari pada dia," gumam Aya menggerutu
.
"Bener Ay, Cinta lu sebesar gunung Merbabu, meja-meja kantin jadi saksi lu, kalau gue sih ga terima cowok yang gue suka dirayu-rayu sama orang" Tambah Rika, terus memanas-manasi.
.
Fery nampak gelisah, melihat wajah Aya yang terlihat tidak karuan, ia yakin sebentar lagi akan terjadi percekcokan antara dua wanita di kantin sekolah, iapun mengibas-ngibaskan kipas pokemonnya dengan semakin kencang.
.
Lalu tiba-tiba Aya berdiri, membanting buku matematikanya yang menyedihkan di atas meja, sambil mengangkat jari telunjuknya kearah Diana, sementara Fery dan Rika pun terlihat tegang.
.
"Hei, Diana jangan kecentilan deh, lepasin tangan lu dari Dewa, Dewa itu milik gue, udah empat tahun gue memendam perasaan suka sama dia, dan gue mau lu pergi sekarang juga, jangan deketin Dewa lagi"
.
Mulut Fery terlihat menganga sambil memandang Aya, ternyata kejadian tidak seperti yang ia harapkan.
.
"Ay, ngapain lu? wajah lu udah sangar begitu, gue pikir lu mau teriakin si Diana, tapi kenapa bisik-bisik doang, lu kurang makan ya?" sahut Rika menggerutu.
.
Aya masih terlihat berdiri bak patung pancoran, ia belum menurunkan jari telunjuknya, namun Diana, Dewa dan semua siswa di kantin sama sekali tidak menghiraukan apa yang yang tengah dilakukan Aya, mereka masih terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
.
Melihat wajah kedua temannya yang begitu kesal Aya pun meringis.
.
"Aduh, ga tahan deh gue, gue cabut ah" sahut Rika kesal
.
"Ikut Ka, kamu nyebelin ay, nyebelin tau ga" Kata Fery, sambil memukul-mukulkan kipas pokemonnya ke kepala Aya.
.
"Kalian mau kemana? jangan tinggalin gue dong, kalian temen gue bukan sih?"
.
"Bukan !" Jawab Rika dan Fery serentak.

By: EYP
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top