Caca Si Rumput Liar - Saifullah

Caca Si Rumput Liar

"Kak, kawin yok" kata Caca sambil menghadang Dimas yang sedang berjalan
"Hah?!!.." Dimas kaget bukan kepalang, hampir saja ia menyeburkan minuman soda ke muka Caca.
"Apaan sih lu Ca?"
"Aku serius, setelah aku pikir-pikir tiga tahun ngejar-ngejar kak Dimas itu udah waktu yang cukup lama, aku udah capek, mau kawin aja. Bulan depan aku dilamar ya?!" Kata Caca dengan nada memaksa.
Dimas menghela nafas jengkel
"Udah ngomongnya? Sekarang minggir, gua mau lewat !"
Muka Caca merengut, tetap di posisinya menghadang Dimas.
"Yaudahlah, kalau gitu ntar aku yang ngelamar kak Dimas"
Caca begitu keras kepala, lalu Dimas menatap Caca dengan muka serius.
"Hmm.. Oke, gini deh.. Coba sebutin, hal-hal yang bisa membuat gua yakin kalau lu memang orang yang tepat.
Caca meringis senang, akhirnya Dimas memberi respon, lalu ia berpikir sejenak mencari jawaban yang tepat.
"Emm.. Aku cantik, hehe"
Mendengar jawaban Caca, muka dimas menjadi datar.
"Hmm, Apa lagi?"
"Aah.. Aku juga pernah jadi anggota cheerleader lho kak" kata Caca
"Hmm, Apa lagi?" Sahut Dimas masih dengan mukanya yang datar.
"Emmm..." Caca terlihat sedang berpikir keras.
"Lu bisa masak?" Tanya Dimas dengan tiba-tiba.
"Bisa, bisa !" Jawab Caca spontan.
Dimas mengerutkan alisnya, merasa ragu dengan jawaban Caca, menatapnya dengan serius seakan menjelaskan bahwa pertanyaannya bukan main-main.
Caca nyengir " Bisa masaak.. emm.... Goreng telur, aku bisa" sahut Caca.
"Dirumah yang beresin kamar lu siapa?"
"Emm.. Mbak"
" Yang bersihin sepatu-sepatu yang tiap hari lu pake itu siapa?"
Caca menjawab pelan dengan muka cemberut.
"Mbak"
"Yang setrikain dan beresin baju-baju lu di lemari siapa?"
Muka Caca bertambah cemberut, ia menjawab dengan nada malas.
"Mbak"
"Dah, sekarang lu minggir" sahut Dimas sambil mendorong lengan Caca pelan.
Muka Caca menjadi begitu kesal, ia terlihat jengkel dan marah. Lalu berkata dengan nada tinggi.
"Kak dimas ini mau cari istri apa cari pembantu?, Kalau mau yang pinter masak, beres-beres rumah nikahin aja tuh mbak Minah !" Caca terlihat begitu kesal.
Dimas menghentikan langkahnya, ia menggela nafas panjang, mencoba untuk tetap bersabar terhadap Caca.
"Oke, lupain pertanyaan-pertanyaan gua tadi, ini pertanyaan terakhir.
IQ lu berapa?"
Mendengar pertanyaan dari Dimas, muka Caca semakin menjadi-jadi, menyadari keahliannya dalam bidang pendidikan yang sangat standar mungkin bahkan minus. Caca diam saja dan terlihat kesal.
"Oke, lagi pula gua udah tau" sahut Dimas lalu melangkah pergi.
"Aku ga perduli !! Waktu buat ngejar-ngejar kak Dimas aku tambahin masa tenggangnya, pokoknya sampai kak Dimas mau !" Kata Caca dengan nada tinggi lalu pergi
"Ya Tuhaaaaan" sahut Dimas kesal, menghela nafas panjang.

By: EYP


Pendapat saya:
Dari cerita di atas, dapat kita simpulkan bahwa cinta Caca kepada Dimas hanyalah bertepuk sebelah tangan. Caca mencoba menarik perhatian Dimas selama tiga tahun tapi tetap saja Dimas tidak bisa menerimanya. Tentu saja Dimas sendiri punya alasan mengapa dia menolak. Berdasarkan obrolan mereka dapat ditarik kesimpulan bahwa Caca bukanlah kreteria Dimas. Bagaimana tidak, setiap pertanyaan yang diajukan Dimas tidak sesuai dengan yang Dimas harapkan. Dimas sendiri ingin mempunyai pasangan yang bisa masak,  mengerjakan keperluan pribadi sendiri, dan bisa mengurus rumah. Sementara Caca berbanding terbalik dengan semua itu. Dia belum bisa mandiri seperti yang diinginkan Dimas. Hal inu membuat Caca kesal, sehingga dia menanyakan kalau Dimas ini mau cari istri apa pembantu. Sampai akhirnya Dimas menanyakan hal yang berhubungan dengan diri Caca langsung, yaitu tentang IQ. Tapi hal yang sama juga terjadi, Caca benar-benar bukan tipe Dimas.

Meskipun cerita di atas hanyalah cerita fiktif atau cerita karangan semata. Namun ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu tentang pertanyaan bisa masak, ngurus rumah, dan ngurus keperluan pribadi. Hal ini mungkin terjadi dikehidupan nyata. Ketika seorang pria ditanya apa keinginan terdalam jika punya istri nanti. Berdasarkan observasi yang saya lakukan kebanyak pria menginginkan hal yang sama seperti Dimas. Walaupun ada sebagian kecil yang tidak mempermasalahkan itu. Ada beberapa alasan mengapa mereka menginginkan itu. Berikut saya bahas singkat satu persatu:
1.Bisa masak
Tahukah kamu, hal yang membuat suami teringat sama istri dan rumah adalah masakan. Ketika dia sering makan masakan istri, secara tidak langsung lidahnya akan terbiasa dengan rasa masakan istri. Apalagi masakan tersebut dimasak dengan kasih sayang. Sehingga apabila dia makan di luar rumah tanpa istri, dia akan mengingat masa-masa ketika mencicipi masakan istri. Hal ini juga menjadi pengikat hubungan sebuah pasangan. Bisa dibayangkan jika yang masak adalah seorang pembantu, bukan?

2. Bisa merapikan kamar
Kamar adalah tempat pribadi, segala hal yang menyangkut barang pribadi diletakkan di kamar. Bagaimana kalau sudah menikah jika merapikan kamar sendiri saja tidak bisa. (Bang pembantu kan bisa diandalkan). Betul, tapi apa seluruh kehidupan kalian mau digantungkan sama pembantu? Kalau dapat pembantu yang baik alhamdulillah. Tapi kalau pembantunya jahat bagaimana? Tidak sedikit kasus yang terjadi antara pembantu dan majikan. Mulai dari pencurian sampai kekerasan pada anak.

3. Bisa bersihkan lemari, baju, sepatu, dan nyetrika (keperluan pribadi/rumah tangga)
Hampit sama dengan poin 2. Alanglah baiknya seorang wanita bisa mengurus keperluan pribadi sendiri. Meskipun suatu saat nanti akan mempekerjakan pembantu, setidaknya ketika pembantu itu plang kampung atau tidak ada di rumah tidak kewalahan menghadapi urusan rumah tangga. Meskipun sekarang ada laundry dan cleaning service, tapi tetap saja memiliki resiko. Ditambah lagi sebagai orang tua kita juga harus bisa mengajarkan anak untuk mandiri nantinya.

4. Cantik dan IQ tinggi
Kedua hal ini sebenarnya tidak disinggung oleh Dimas, namun karena Caca memaksa jadi Dimas menjawab sesuatu yang saya pikir merupakan optional dalam sebuah kreteria. Seperti yang kita tahu cantik itu relatif, kecantikan bertahan hanya sebatas usia. Kecantikan juga tidak menjamin sebuah hubungan menjadi langgeng, bahkan terkadang malah menjadi penyebab hubungan hancur. Kecantikan sejati adalah yang berasal dari dalam diri, bukan dari wajah atau penampilan.

Bagaimana dengan IQ? Menurut apa yang telah saya baca dan pelajari, ternyata salah satu faktor seorang anak cerdas adalah orang tua. Namun itu hanya salah satu faktor. Sementara ada faktor lain yang juga bisa mempengaruhi seperti asupan gizi, pola hidup, kedisiplinan, dan lain-lain.

***
Ada hal yang membuat saya kagum akan Caca, yaitu usahanya memperjuangkan cinta. Disaat wanita lain malu untuk mengungkapkan perasaan, disaat itu dia blak-blakan dengan perasaannya. Walaupun sedikit over. Tapi tidak masalah lah ya. Bagaimanapun, cinta itu memang harus diungkapkan, karena manusia bukan Tuhan yang bisa tahu isi hati. Tidak peduli apakah itu seorang cewek. Dan faktanya banyak kok sekarang cewek yang menyatakan cinta duluan. Bahkan pas saya masih SMP sudah ada sampai sekarang. :)

Silakan berikan pendapat kalian sendiri dikolom komentar 🙂
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top