Cemburu - Saifullah

Cemburu

Walaupun rasa sayangku utuh padanya, ia tetap mencari raga lain untuk berlabuh. Malam ini, seperti yang sudah-sudah, ia beranjak bangun dari pelukan saat tidurku sudah pulas. Tanpa suara turun dari ranjang dan menyelinap pergi lewat jendela yang sengaja tidak pernah ditutup, hanya kain gorden sebagai penghalang udara malam menyerbu masuk.
Pun saat kembali, ia tidak menimbulkan suara. Aku hanya tahu dari dingin kulitnya yang menyentuh lenganku saat ia menyusup dalam dekapan. Benar-benar membuat cemburu, siapa yang ditemui di luar sana?
Pagi ini, aku terbangun tanpa ada dia. Dengan terburu kusingkap selimut, memeriksa tiap sudut kamar mandi, juga mencari ke kolong ranjang.
''Jo... Jo... Jo... '' Aku memanggilnya. Apa ia tidak pulang semalam? Tidur di mana?
Ada suara lirih di luar kamar. Aku membuka pintu dan kudapati ia tiduran di tumpukan kain yang belum selesai di setrika. Aku memandangnya kesal.
''Kau selalu diam-diam keluar kamar saat aku sudah nyenyak. Kembali menjelang Subuh dan kali ini kau pun tidak tidur di sampingku seperti biasa, kenapa?''
Matanya menatapku, lalu ia rebahan lagi. Saat itu baru terlihat ada darah di bagian perut kirinya. Kaget. Kuusap kepalanya, aku beranjak ke kamar mengambil kapas dan obat untuk membersihkan luka agar tak infeksi. Tapi saat kembali, ia sudah tidak ada. Sudah pergi. Kesal, tapi kumalas mencarinya.
Malam ini aku sengaja menunda waktu tidur dari biasanya. Ia terlihat gelisah, menatapku, menatap buku yang kubaca, gelisah memandang keluar dari jendela yang sengaja kusibak kain gordennya. Lalu naik ke ranjang tiduran manja di atas perut, menjilati lengan dan sesekali ia menggosokkan kulit halusnya ke badanku
''Baiklah, aku akan tidur. Tapi kau juga tidak akan keluar malam ini, Jo. Aku cemas memikirkanmu di luar sana. Dan, lukamu juga baru mulai mengering, kan?''
Aku meraih tubuhnya, memeluk dan menarik selimut hingga tubuh kami tertutup. Kali ini aku ingin tahu, apa yang dilakukan Jo setiap malam. Begitu aku memejam mata, ia perlahan beranjak dari dekapan, turun dari ranjang dan naik ke jendela. Dari balik selimut, aku mengintip. Ia sempatkan menatapku sebentar, dan melompat keluar. Sebelum ia jauh menghilang, aku bangkit dan segera keluar kamar. Dengan hanya membawa hanphone yang nanti dibutuhkan untuk penerangan.
Jo keluar dari halaman belakang, melompati pagar rendah dari bambu. Di bawah jendela rumah bercat biru ia berhenti. Bersuara halus yang kutahu, Jo sedang memanggil.
Aku ingat yang menempati rumah bercat biru baru satu bulan lalu. Mereka sepasang keluarga yang belum kutahu pasti bagaimana, karena belum pernah secara langsung sengaja bertandang, sibuk kerja dari pagi kembali menjelang malam, itu alasan klasik saja.
Dari cahaya remang sorot lampu teras, aku jelas melihat. Jo mondar mandir dengan terus bersuara. Tidak sampai lima menit, ada suara sahutan lirih, seiring munculnya makhluk yang, wow! Aku menatap kagum.
Cantik sekali. Ia mengenakan kalung pita berwarna pink. Bulu-bulunya lebat dengan kilau yang dipastikan ia begitu terawat. Jo menyambut kedatangnya dengan menyentuhkan hidung di bagian leher dan hidung si pita pink.
Dalam persembunyian, aku tertawa senang. Berjanji dalam hati esok pagi akan kusempatkan berkunjung ke rumah cat biru, menanyakan siapa nama kucing berbulu kuning memakai pita pink itu. Dia serasi dengan Jo, kucing jantan belangku.
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top