Aib - Saifullah

Aib

Sebenarnya gue malu buat menulis ini gaes. Tapi, bodo amat dah, kali aja berguna buat lo semua. Supaya kalo nanti lo melihat apa-apa, gak buru-buru ngejudge a book by its cover.

So, begini ceritanya.

***

Alkisah, sebelum gue menjadi seorang tukang bakmi ganteng yang kagak viral seperti sekarang, di zaman old dulu gue pernah menjadi seorang motivator.

Gue pernah beberapa kali diundang untuk mengisi acara-acara seminar kewirausahaan, baik di kota-kota besar, maupun di daerah-daerah terpencil paling ujung di Indonesia. Seperti di Bekasi misalnya.

Pada saat itu, orang mengundang gue karena mereka pikir gue adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Iya sih, waktu gue masih muda dulu, gue memang sudah mempunyai beberapa usaha yang cukup lumayan. Dan di setiap usaha, gue gak cuma menempatkan satu atau dua orang karyawan saja. Tapi tiga.

Selain mempunyai beberapa usaha, pada saat itu kendaraan gue juga sudah roda empat. Karena, motor gue dua.

***

Singkat cerita, hampir setiap bulan gue berkeliling dari satu tempat seminar ke tempat seminar lainnya dengan kedua motor gue, untuk memotivasi anak-anak muda agar mereka berani membuka usaha, dan menjadi sukses seperti gue. *Ehem. *Batuk orang sukses.

Di tempat seminar, gue dikagumi, ditepuk tangani, dan dicium tangani oleh audience. Pokoknya, gue sudah seperti Ponari.

Sementara di luar seminar, gue dikagumi oleh teman dan tetangga. Kata mereka, penampilan gue keren.

Memang gak heran sih kalo gue dibilang keren, karena, kemana-man gue selalu memakai baju ber-merk. Tibang beli sarapan nasi uduk ke depan rumah aja, gue pake kemeja St Yves slim fit seharga 450 ribu. Karena kalau cuma pakai kaos oblong doang, gue gatal-gatal.

Selain penampilan gue yang keren, kata orang tunggangan gue juga keren. Karena, kemana-mana gue selalu pakai mobil pribadi. Tetapi meskipun begitu, gue mah gak sombong gaes. Cuma sering ngelakson doang kalo ketemu orang. Padahal kagak kenal.

***

Jadi begitu gaes. Orang menganggap gue pengusaha muda, menganggap gue sukses, dan menganggap gue keren. Padahal...pret.

Pernah pada suatu ketika, sehabis mengisi acara di sebuah seminar kewirausahaan, secara gak sengaja gue bertemu dengan teman gue dan anaknya, di pinggir jalan raya depan masjid. Dia baru saja selesai menunaikan ibadah sholat ashar.

Gue membunyikan klakson, dan membuka kaca nako mobil.

"Hei Bro, dari mana lo?!" Sapa gue songong.

"Hei Bos, dari masjid, abis sholat. Waduh, sekarang keren euy, pake mobil, udah sukses ya Bos."

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, teman gue tersebut pamit pulang. Sedangkan gue, melanjutkan perjalanan untuk bertemu klien di kantornya. Sholat ashar terpaksa gue tunda dulu, karena klien gue ini kelas kakap. Sayang banget kalo gue sampai telat, dan membuat dia kecewa.

Sesampainya di kantor klien, ternyata justru gue yang kecewa. Karena, dia lagi terbang ke luar pulau, padahal sudah janjian.

Di perjalanan pulang, gue nyetir sambil melamun. Gue kesel, sedih, dan inget temen gue, yang ketemu gue di depan masjid barusan. Di dalam dalam mobil gue berteriak-teriak sendiri...

"Yang sukses mah elo Brooo! Lo bisa sholat ashar tepat waktu di masjid sama anak lo. Lah gueee? Sholat ketinggalan, tagihan ngantri, duit di dompet tinggal ceban. Lo gak tau aja seminggu lagi gue harus bayar cicilan nih mobil, dua bulan Brooo!. Belum lagi harus bayar perpanjangan sewa toko, gaji karyawan, cicilan pinjaman ke investor, sedangkan orderan lagi sepi. Duh ya Allohhh, cabut aja nyawa temen gueee!"

Sampe salah ngomong gue gaes, saking pusingnya.

Beberapa bulan setelah gue teriak-teriak di mobil, semua usaha gue hancur. Toko, karyawan, mobil, rumah, wassalam. Hutang, tagihan, cicilan, welcome.

Begitulah gue yang dulu. Disangka sukses, padahal tongpes. Disangka keren, padalah cemen. Dan disangka kaya, padahal riba. Habis semua yang gue punya, sampe ke kolor-kolor. Untung isinya kagak.

***

Sekarang gue merasa kehidupan gue jauh lebih baik ketimbang dulu. Alhamdulillah. Gue dikaruniai keluarga yang sakinah, kesehatan yang baik, dan yang paling penting, sholat fardhu yang terjaga. Gak ada lagi keinginan buat show off, aktualisasi diri, "Ini loh gue, gue bisa buktiin ke elo2 semua bahwa gue bisa!"

Walaupun sekarang gue 'cuma' seorang tukang bakmi, tetapi gue happy. Karena, usaha ini gue bangun dari modal sendiri, gak pinjam dari orang, apalagi dari tuyul.

Walaupun sekarang gue belum punya rumah, tetapi gue bahagia. Karena, gue tinggal di kontrakan yang nyaman, sambil menabung untuk membangun rumah masa depan, yaitu kuburan.

Dan walaupun sekarang gue belum punya mobil, tetapi gue gak labil untuk kembali nyicil. Karena, gue sudah kenyang merasakan yang namanya deg-degan tiap jatuh tempo. Kerennya gak seberapa, jantungannya na'udzubillah. 36 bulan gaes, gak enak makan gak enak tidur. Apalagi yang 60 bulan. Ubanan dah, atas bawah.

***

Akhirulkallam, ada tiga pesan yang gue wasiatkan buat lo, karena gue pernah mengalaminya.

Yang pertama, jangan riba. Karena riba menghancurkan semuanya. Kalo gak sekarang, nanti, tinggal tunggu waktunya saja.

Yang kedua, jangan banyak gaya. Karena suatu saat, banyak gaya akan membuat lo mati gaya.

Dan yang ketiga, don't judge a book by its cover. Karena seseorang yang lo lihat keren dan punya mobil, belum tentu hidupnya bahagia. Apalagi yang kagak punya.

Sekian, gue Brad Pitt, tukang bakmi ganteng yang kagak viral.

Penulis:
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top