Atas Nama Cinta - Saifullah

Atas Nama Cinta

Apakah aku yang salah ketika cintai ini mengalir begitu deras sampai ku tak mampu membendung setiap tetesnya dan aku tak tahu kemana cinta ini bermuara. Hanya saja jantung ini berdegup kencang saat berada di dekatnya.

Begitulah kira-kira gambaran perasaan anak muda yang sedang jatuh cinta. Memang sudah lumrahnya seorang pemuda jatuh cinta. Cinta merupakan bagian yang tak terpisahkan ketika seseorang tumbuh dewasa karena rasa itu muncul secara tiba-tiba.

Kepada siapa cinta itu bersemi dan kapan ia akan tumbuh tak ada yang tahu. Kita hanya bisa merasa, pasrah, dan melangkah begitu saja. Ketika nadi berdetak lebih cepat dari biasanya, mulut tak mampu menguarkan kata-kata di dekatnya, dan nafas yang mendadak berhembus tak terkira, apa lagi kalau bukan itu cinta.

Ada pepatah mengatakan cinta datang dari mata turun ke hati. Memang benar adanya, hal pertama yang memikat hati adalah yang berasal dari mata: wajah, penampilan, dan kebiasaan seseorang bisa  saja memancing yang namanya cinta pada pandangan pertama.

Walaupun tidak bisa dipungkiri ada juga yang tertarik karena tutur kata, kecerdasan, dan kedewasaan. Namun yang jelas perasaan itu muncul dan membuat hati berbunga-bunga hingga kamu merasa bahwa kamu dan dia seperti pangeran dan bidadari saja.

Belum lagi adanya waktu yang dijalani bersama. Rasa yang ada tumbuh subur, mengakar, dan menancap erat hingga kau tak mampu melepasnya. Bahkan jauh sedikit saja membuatmu gelisah, ibarat tanaman tanpa air, kering merontang, dan tersiksa.

Perlahan-lahan fokusmu hanya tertuju padanya. Mendengar namanya saja sudah cukup membuatmu bahagia. Berdekatan dengannya membuatmu ingin menunjukkan rasa, cari perhatian, berlagak berwibawa. Melihat dia posting hal romantis, kamu terbawa bawa rasa. Eh giliran dia dekat dengan lawan jenis, kamu cemburu buta.

Lantas apa jadinya bila dia punya perasaan yang sama? Bak pepatah mengatakan "Pucuk diminta ulampun tiba". Mendadak tubuh terasa melayang-layang. Hanyut dalam bahagiaan yang datang sesuai harapan. Pada akhirnya engkau larut dalam indahnya cinta.

Kalau udah begitu ujung-ujungnya berpacaran. Apa yang tadinya dilakukan sendirian, kini dilakukan berdua. Jalan, makan, nonton, mengerjakan tugas bahkan ngobrol saja jadi sering berduaan. Dunia mulai jadi seolah-olah cuma milik berdua, sampai-sampai saat teman lewat ada seruan cie cie yang ikut lewat.

Begitu jarak memisahkan, chat dan telponan menjadi jalan pertemuan. Tak peduli pulsa dan kuota habis berapa, yang terpenting ada kabar darinya. Sedetik rasanya sebulan katanya. Meskipun yang dibicarakan itu-itu saja, kalau udah cinta yang bicara, kopi pahit pun rasanya gula. Memang sih selalu ada candaan mesra yang mencairkan suasana. Jadi tak terasa waktu terlewatkan begitu saja.

Ditengah asyik-asyiknya, tiba-tiba ada yang bilang "Berpacaran Dilarang Agama". Sungguh kaget tak percaya.
"Masa iya? Kita kan pacaran yang sehat-sehat aja. Kita tidak tidur bareng kok. Kita juga tau batasannya. Pacaran kita wajar-wajar aja."
"Kami pacaran bukan untuk main-main kok, niat kami ingin menikah nanti. Ini masih tahap mengenal lebih jauh satu sama lain."
"Kalau tidak pacaran bagaimana mau tahu sifat dan karakter pasangan? Pernikahan kan untuk seumur hidup, jadi harus hati-hati memilih pendamping, jangan seperti beli kucing dalam karung"
"Lagian mana ada di zaman sekarang orang yang mau diajak nikah tanpa pacaran dulu?"
Begitulah kira tanggapan orang-orang yang mengindahkan larangan agama. Seribu argumenpun bisa dibuat untuk menghalalkan apa yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan jalan hidup. Ibarat kata dari kecil tidak ada yang melarang merokok sampai sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Begitu sudah besar ada yang melarang merokok dengan alasan rokok itu merusak kesehatan, tentu kita akan mencari pembelaan, bukan?
"Ah, orang yang tidak merokokpun bisa sakit. Mereka yang tidak merokokpun nanti mati juga. Kami merokok dengan uang kami sendiri jadi tidak merugikan orang lain. Kami tidak merokok di tempat umum kok"
Seberapa kuat dalil atau hasil penelitian yang menunjukkan sesuatu berdampak buruk. Itu tak menyurutkan kita untuk berhenti. Namun semua itu harus dimaklumi karena sejak kecil kita memang tidak diajarkan bahwa pacaran itu dilarang agama. Malah kita sudah terbiasa dari kecil melihat orang pacaran, baik di tv maupun di kehidupan sehari-hari. Banyak yang melakukannya kok! kita membela diri.

Lalu benarkah pembelaan tersebut? Mari kita bahas satu persatu. Tapi di artikel berikutnya ya. Pembelaan bagian pertama "Pacaran Itu Boleh, Asalkan Wajar"
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top