Kisah Tertulis 10 - Saifullah

Kisah Tertulis 10

"Judulnya Ellea?" Pak Sam memastikan.

"Ya."

"Nama?" Lagi, laki-laki tinggi besar berkulit putih dengan rambut keperakan itu memastikan.

"Ya, nama." Aku mengangguk mantap.

"Kupikir sebelum ini kau tidak pernah suka memberi judul buku hanya dengan nama. Tidak membuat penasaran, katamu."

Aku terdiam. Karena memang tak ada jawaban untuk itu. Aku tidak menyukai judul nama karena terlalu bias. Tidak membuat orang yang melihat merasa penasaran. Tapi kali ini, aku ingin nama Ellea sebagai judulnya.

"Oke, kalau itu memang keputusanmu," ucap Pak Sam mengerti.

Kami sama-sama bangkit berdiri, saling bersalaman. Lalu Pak Sam keluar dari restoran tempatku bekerja setelah menepuk bahuku.

Ellea.

Bahkan aku tidak yakin kami akan bertemu lagi. Di sini, setiap libur kerja aku berjalan keluar, mengelilingi kota dengan uang seadanya. Berharap menemukan jejak Ellea, tapi tak ada.

Bukankah hidup memang seperti itu? Saat kita tidak berharap bertemu dengan seseorang, takdir mempertemukannya. Tapi saat kita berusaha mencari keberadaan seseorang dengan sekuat usaha, takdir seperti menyembunyikannya.

Atau mungkin, sekarang dia sudah menikah dengan orang lain? Mengingat dia dua tahun lebih tua dariku.

Seperti ada sesuatu yang runcing menusuk dari balik kemejaku. Hanya karena aku membayangkan jika Ellea memang benar sudah terikat pernikahan dengan seseorang.

... bukan denganku.

***

Sebulan setelahnya, cetakan pertama novel Ellea yang bercerita tentang jiwa cantik dalam raga tak sempurna diluncurkan.

Pak Sam bilang, dalam minggu pertama responnya masih seperti dua bukuku yang sebelumnya. Hanya lumayan. Tapi kemudian, saat novelnya benar-benar sudah terbaca oleh beberapa orang dan ceritanya mulai menyebar, terjadi banyak lonjakan.

Mereka bilang cerita itu sarat akan pesan moral. Bahwa sebagian besar mereka yang merasa raganya tidak serupa model yang layak untuk dibanggakan, atau yang mempunyai cacat fisik dalam arti sebenarnya, merasa tersanjung oleh diksi dan lusinan quote yang kutulis di dalamnya.

Novel ketigaku, meledak di pasaran.

Mulai banyak yang mempertanyakan, siapa itu Napoleon Bonaparte. Bahkan ada yang tertawa dan bercanda tentang nama penaku.

"Ternyata Napoleon masih hidup dan berubah menjadi penulis sekarang!"

Itu yang sering kudengar tiap kali tak sengaja bertemu dengan seseorang yang asyik membaca kisah Ellea di dalam kereta yang sama.

Lalu mulai berbisik-bisik mereka.

"Aku benar-benar penasaran pada sosok penulisnya," kata salah seorang gadis berambut kecoklatan yang duduk tepat di kursi di hadapanku.

"Kenapa dia tidak mau memperlihatkan wajahnya di kolom tentang penulis?" Gadis yang satunya menimpali, "kupikir dia sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Mungkin wajahnya benar-benar jelek?"

Mereka tertawa geli.

"Atau, dia adalah seorang kakek tua? Atau ... seorang perempuan? Atau ... dia punya cacat fisik karena itu dia membuat cerita tentang jiwa cantik dalam raga tak sempurna? Atau ... dia hanya seorang pemuda bermasalah dalam keluarga yang kacau?"

Mereka berdua terus saja mencoba menebak.

Dari sini, tepat di hadapan mereka aku tersenyum tipis sambil mengedarkan pandangan keluar jendela.

Kenapa sebagian orang hanya berpikir negatif tentang orang lain? Kenapa rasa penasaran seperti begitu menghantui pemikiran mereka? Dan kenapa menurut mereka menjadi terkenal itu benar-benar anugerah yang membanggakan? Mungkin iya. Tapi bagiku, menjadi terkenal hanya akan membuat privacy-ku terganggu.

Sementara untuk membuat tulisan bertema kesederhanaan, seringkali membuatku harus berjalan ke tempat-tempat kumuh, ke jalanan, dan mempelajari rupa-rupa pedih dalam keramaian.

Itu semua, butuh keheningan. Kebisuan. Berbicara dengan alam. Bukan sorak sorai dunia.

"Terserahlah, apapun dia, aku menyukai apa yang ditulisnya. Aku tetap akan meminta tanda tangan walau bagaimana pun fisiknya." Gadis itu tersenyum manis.

"Aku juga!" Yang satu menyahut, "tapi entah kapan. Kudengar dia sama sekali tidak mau memperlihatkan wajahnya. Berapapun bayaran yang ditawarkan media."

"Kalau aku yang ditawari begitu, langsung kuterima!"

Mereka berdua tertawa cekikikan lagi.

Lagi, aku tersenyum tipis. Bagiku, harga sebuah privacy jauh lebih penting dari semua uang yang mungkin akan habis dalam waktu sebentar.

Sementara aku, butuh seumur hidup untuk ketenangan.

"Yang jelas, jika aku diberi kesempatan untuk bertemu dengannya, akan kuucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Karena tulisannya kali ini ... berhasil membuatku merasa menjadi orang spesial, tanpa memikir cacat yang kupunya ..."

Cacat?

Aku mengamati gadis itu lebih lekat. Tepat pada saatitu kereta berhenti di sebuah stasiun sebelum stasiun tujuanku.

Dua gadis itu bangkit berdiri, lalu melangkah turun. Yang satu berjalan lebih dulu, sementara yang satu menyusul ... dengan langkah terseok-seok.

Gadis itu punya kaki dengan panjang berbeda.

Aku menghela napas. Lalu kembali menatap keluar lewat jendela kereta. Tersenyum mengingat kata-kata terakhirnya tadi.

Ya, aku menerima ucapan terimakasihmu.

***

Beberapa bulan setelahnya, bukuku semakin laris terjual, hingga berkali-kali naik cetak. Beberapa media membahas tentang isi dan semua filosofinya, dan tak sedikit yang terus menanyakan pertanyaan yang sama. Siapa sosok di balik nama Napoleon Bonaparte sebenarnya.

Bahkan beberapa wartawan sempat -sedikit- mendesak agar Pak Sam memberitahu identitasku dengan harga yang menggoda.

Beruntung, Pak Sam orang yang profesional. Dia hanya bungkam selama belum diizinkan.

Sementara aku masih di sini. Menjadi seorang pelayan dengan celemek warna putih yang berjalan mondar-mandir dari meja ke meja menjadi orang suruhan. Sesekali mendengar namaku dibicarakan. Ada yang memuji, tak jarang juga yang menjelekkan. Dan aku hanya membalasnya dengan senyum tipis menghiasi wajah yang dipalingkan.

Tapi, aku menikmatinya.

"Athaya! Pesanan untuk meja no dua puluh!" Sang koki memanggilku dari balik jendela dapur.

Cepat, aku meninggalkan meja yang baru selesai kulayani. Lalu menyambar nampan berisi seporsi makanan dan segelas juice di atasnya.

Berjalan di antara meja dan meja, dengan nampan yang terangkat di atas telapak tangan. Berpapasan dengan pelayan berwajah serius lain, saling melemparkan senyum pertanda saling menyemangati dari rasa lelah siang ini.

Meja dua puluh.

Seorang wanita dalam posisi duduk menghadap kaca, memunggungiku, dimana dari sini tampak jalan raya dan kesibukan para pekerja kantoran yang berjalan cepat menuju tempat tujuan.

Pernahkah kau merasa begitu familiar dengan seseorang meski belum melihat wajahnya? Aku ... masih mengenal lekuk tubuhnya meski ia memakai pakaian berkelas yang berbeda.

Jantungku menghentak, lalu terasa berhenti untuk sesaat. Menciptakan keringat dingin dan lemahnya tulang di seluruh persendian.

Hampir saja aku mengucapkan namanya setelah akhirnya kusadari, dia bersama seorang pria.

Aku berdiri di sampingnya. Tepat di sampingnya. Dengan tangan sedikit gemetar saat menurunkan makanan dan minuman dari atas nampan. Kini kusadari gadis itu baru saja menurunkan buku yang dia baca. Buku yang mengisahkan tentangnya.

Ellea ... membaca buku?

Dia menatapku, untuk mengucapkan terimakasih atas pelayanan yang kuberikan. Lalu kusadari mata itu tak lagi berwarna biru.

"Terimakasih," ucapnya.

"Ya, Nona." Aku menatapnya.

Dia balas menatapku, sedikit kaget setelah mendengarku bicara. Menyadari suara yang terdengar begitu familiar di telinganya. Kemudian dialihkan pandangan ke arah punggung tangan kiri yang menangkup nampan didepan paha.

Buku itu, sempat terhempas jatuh di pangkuannya, lalu diambilnya dengan tangan gemetar.

Kembali, pandangan matanya naik ke mataku. Bertemu tepat di titik itu. Titik dimana terdengar suara yang hanya hati bisa mendengar.

Lalu kami ... bicara.

Kami berdua bicara, lewat tatapan mata. Hingga kulihat bulir air mulai menggenangi matanya. Sementara bagiku wajahnya mulai samar karena terhalang kaca-kaca.

"Tahu namaku ...?"

"Ellea."

Kami terdiam lagi. Jika kau tahu ada perasaan dimana tiba-tiba suara yang semula ramai tiba-tiba hening seketika, saat ini ... aku mengalaminya.

"Apa itu ... tandanya?" Sekilas dia melirik punggung tanganku. Lalu kembali ke atas, menatapku.

"Ya ... ini tandanya ..."

Airmata mulai menetes di wajahnya.

"Apa ... ini kisah tentangku?" Dia menanyakan buku di tangannya.

Aku mulai merasakan sesak. "Ya ... Nona ..."

Dia tertawa miris, "Aku tahu siapa itu Napoleon Bonaparte ... aku ingin ... menemui sejak bukunya keluar ... tapi ... dia tidak ingin ... ditemui ..." Suaranya sedikit tersendat menahan isak.

"Aku ... tidak tahu kau bisa membacanya."

Dia mengusap mata dengan punggung tangan. Sama, aku juga melakukannya dengan tangan sedikit gemetar.

"... apa boleh ... memelukmu?" tanyanya dengan isak yang semakin nyata.

"Ya, tentu saja ..."

Lalu nampan di tanganku terjatuh, saat dia memelukku erat. Sangat erat.

Sangat erat.

"Athaya, apa kau merindukanku?"

"Apa aku harus mengulang apa yang sudah dijelaskan oleh mata?"

Dia mendongak, menatap mataku lekat.

"Ya, Nona ... aku merindukanmu ... setengah mati ..."

Lalu dia membenamkan wajahnya di dadaku, lebih dalam lagi.

 Penulis: Patrick Kellan

9       10       11
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top