Kisah Tertulis 15 - Saifullah

Kisah Tertulis 15

Ini sebabnya kenapa aku tak ingin menunjukkan identitasku di depan publik. Agar tak ada seorangpun yang mengenali meski namaku sedang melambung tinggi saat ini. Agar tak ada seorangpun yang mengganggu saat aku hanya ingin berdua saja dengan Ellea.

Agar tak dilihatnya ketika aku harus beramah tamah dengan para pembaca, yang kadang tidak sadar bahwa mereka harus menjaga jarak saat aku di depan perempuanku.

Maka inilah aku. Duduk berdua saja dengan Ellea, di salah satu bangku kereta. Bersama dengan puluhan penumpang lain yang sama sekali tak peduli. Menikmati senja yang menguning membiaskan warna terang yang memudar di pucuk-pucuk pepohonan.

Tenang.

Damai.

Penuh cinta.

Dan hanya berdua saja.

***

"Athaya!"

Aku membuka mata. Terdengar seruan tertahan Ellea membangunkanku. Lalu kurasakan tangannya menekan-nekan, meraba, lalu memelukku erat.

"Apa aku buta sekarang? Apa aku buta? Apa sekarang saatnya?" Suaranya berubah sengau. Mendekapku erat hingga kuku-kukunya menyakiti lenganku.

Bahkan dia tak membiarkanku bergerak karena takut pelukannya terlepas.

"Bukan, Ellea. Dengar, ini hanya listrik yang padam. Sepertinya ada konsleting listrik. Tenanglah. Tenang!" Aku mengusap bahunya.

Baru kemudian ia sedikit lebih tenang.

Pendar lilin kekuningan sebagai satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan. Di dekapanku, Ellea terdiam. Tangannya melingkar erat. Sesekali mengusap sudut matanya.

Dia menangis. Dia sangat ketakutan. Untuk beberapa saat, kami hanya saling diam dalam pikiran melayang. Jauh. Ke tempat yang sama. Memikirkan penglihatan Ellea yang mulai memudar.

Hanya dalam waktu beberapa bulan, saraf matanya semakin melemah.

Itu menyedihkan, saat kau sama sekali tak bisa berbuat apa-apa melihat kesayanganmu mengalami ketakutan dari hari ke hari.

***

Kurasakan pelukan Ellea dari belakang. Sementara mataku tetap fokus menatap layar laptop. Dengan jari menari-nari di atas keyboard. Meluncurkan kalimat demi kalimat berdiksi romantis.

Ellea ikut menatap ke arah layar laptop. Dan aku tersenyum menunggu dia mengucapkan sesuatu tentang paragraf yang kutulis setelah dia memelukku.

Karena aku menyapanya lewat tulisan.

Tapi, tak terdengar jawabannya. Dia hanya memelukku tanpa mengatakan apapun.

"Kau menyukainya?" Akhirnya aku bertanya.

Ellea diam.

Aku menoleh padanya.

"Ellea?"

Dia melepaskan pelukan. Lalu mata coklat itu mulai berkaca-kaca.

"Aku ... tidak bisa melihatnya. Bisakah kau bacakan untukku?"

Kini, aku yang terdiam. Menyadari bahwa sekilas tadi aku lupa bahwa pandangan matanya mulai melemah. Tapi kupikir ... beberapa hari kemarin dia masih bisa membaca tulisan di layar komputer walau dengan menyipitkan mata dan membuat jarak yang begitu dekat.

Aku mengusapkan airmata yang akan menetes lagi. Lalu menarik kepalanya agar menangis di dadaku. Untuk beberapa saat dia sedikit terisak.

.

Perlahan, penglihatan Ellea semakin memudar. Tidak bisa membaca huruf-huruf kecil, tidak bisa melihat angka kalender, lalu akhirnya tidak bisa melihat angka jam dinding.

Kadang, kulihat ia terjaga di malam hari. Duduk, lalu menatapku begitu lama. Mengusap wajahku dengan jemarinya, lalu mengecup semua bagian wajahku.

Saat aku membuka mata, kulihat senyum itu. Senyum tanpa rasa bahagia.

Aku membenahi rambutnya. Mengajaknya untuk kembali tidur tapi Ellea menolak.

"Kenapa?" Aku menatapnya.

"Aku takut ... jika besok ... pandanganku sudah semakin samar."

"Ellea ..."

"Biarkan aku memandangi wajahmu, Athaya. Aku sedang mengingatnya dengan jelas."

Lalu dipandanginya aku. Lama. Untuk memuaskan hatinya. Kami tak banyak bicara. Hanya saling pandang dalam pikiran penuh rasa.

Hingga akhirnya dia berucap pelan.

"Athaya ... kebutaan yang kedua ini sungguh menakutiku. Aku sudah terbiasa melihat wajahmu. Aku terbiasa melihat ekspresi wajahmu. Aku terbiasa melihat senyummu yang menenangkan. Jika nanti semua kembali gelap ... aku pasti sangat merindukannya."

"Kau masih bisa meraba wajahku, Nona ..."

"Itu lebih menyakitkan. Saat aku tahu kau ada di sini, masih di dekatku, tapi aku tidak bisa melihatmu. Aku takut rasa rindunya malah akan semakin hebat. Rindu untuk melihat wajahmu sekali lagi, tapi seumur hidup aku takkan bisa ..."

Lalu airmatanya mengalir lagi. Dan semalaman itu dihabiskannya memandangi wajahku.

***

"Sayang, aku membuat sup jagung untukmu!" Ellea muncul dari pintu dapur menuju sofa di mana aku berada. Tengah mengetik beberapa paragraf akhir tulisanku kali ini. Setelah seminggu lebih kukerjakan hingga mengurangi waktu tidur akhirnya aku bisa bernapas lega.

Tiba-tiba Ellea memekik saat lututnya menabrak pinggiran meja.

"Aah!"

Aku menangkap pinggang Ellea agar dia tidak terjatuh, tapi mangkuk di tangannya terjatuh begitu saja.

Tepat ke laptop di atas meja.

Semangkuk sup jagung menyiram keyboard dan layarnya. Untuk beberapa saat layar komputer berkedip-kedip, lalu akhirnya mati.

Hasil lemburku selama seminggu lebih akhirnya menghilang begitu saja.

"Maaf! Maaf, Athaya! Maaf!" Dalam keremangan penglihatannya, Ellea berusaha membersihkan susu dan jagung dari laptop.

"Sudah Ellea, tidak apa-apa." Aku menarik tangannya.

"Tapi aku tahu ini hasil kerjamu selama seminggu, Athaya ..."

Dia bersikeras mengusapkan tangannya ke layar komputer yang telah mati. Mengusap semakin keras seolah itu bisa menghidupkan kembali mesinnya. Tapi aku tahu dia tidak sebodoh itu. Ellea bukan ingin menghidupkan laptopku kembali, dia sedang merasa sangat bersalah dan mengutuki penglihatannya.

Itu.

Menyakitkan.

Aku berdiri dan berjalan ke kamar. Membiarkan Ellea terus menggosok laptop itu dengan ujung lengan kemeja panjang yang dikenakannya.

Aku tahu dia menangis.

Begitupun aku. Di sini. Di balik pintu kamar. Merasa jantungku begitu kesakitan melihat apa yang dilakukan Ellea.

Bukan karena aku ikut mengutuki penglihatannya. Tapi merasa begitu lemah karena tidak bisa melindunginya.

Dari kebutaan.

Pagi itu, kami berdua menangis. Di tempat yang berbeda.

***

"Sudah sesamar apa?" Aku bertanya.

Aku duduk di tepi ranjang. Sementara Ellea duduk di karpet bulu, menjatuhkan kepalanya di pahaku. Menatap kosong ke arah dinding kamar. Dengan kedua tangan memeluk pinggang. Terdiam. Lama.

"Hanya terlihat warna warna pudar. Merah ... putih ... selebihnya hitam... " bersamaan dengan airmata jatuh menitik, dibiarkannya itu membasahi celanaku. Tanpa berniat menyeka.

"Sudah tak terlihat lagi bentuknya?"

"Sedikit ..."

Kami terdiam lagi.

"Athaya ... aku takut tertidur malam ini ..." dia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, "aku takut ... besok semuanya menjadi gelap."

Pipi Ellea dibasahi oleh setitik air. Air yang menetes jatuh dari mataku.

"Athaya ... terimakasih."

"Untuk apa?"

"Karena kau tak pernah memarahiku saat aku melakukan banyak kesalahan akibat penglihatan yang mulai memudar ... dulu Zackie dan Lane selalu marah saat mereka mulai terganggu ..."

"Itu karena mereka masih kecil ..."

"Ya ... tapi ketakutan itu menyisakan rasa trauma sampai sekarang ..."

"Aku mengerti."

"Ya ... kau memang selalu mengerti ..." Ellea mendongak, kulihat segaris senyum tulusnya. Hanya saja pupil mata itu sudah tidak bergerak tepat ke mataku.

Hatiku mengecil.

Sedih. Sesak. Ingin meratap pada Tuhan untuk Ellea. Tanpa sadar pandanganku semakin mengabur karena derasnya airmata. Berjatuhan. Menetes-netes di atas wajahnya.

Semakin sesak. Karena isak yang tertahan.

Dia mengulurkan tangan mengusap wajahku.

"Athaya ... kau menangis?"

"Karena aku tidak bisa melindungimu ..."

Dia mengubah posisi duduknya. Bertumpu di atas kedua lutut hingga wajah kami hampir sejajar. Lalu mencium pipiku.

Lalu memelukku erat.

.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Menghabiskannya dengan belaian dan cumbuan, lalu membicarakan tentang banyak hal.

Tentang masa lalu. Tentang kebahagiaan yang nyaris sempurna. Tentang cinta tanpa akhir yang kupunya untuk Ellea.

Dia mendengarkan. Dalam pelukan yang semakin erat tiap kali dia mengerjapkan mata. Karena pandangannya, terasa semakin memudar.

"Kini ... tinggal hitam dan putih ..." bisiknya padaku.

"Tidak apa-apa, Ellea ... aku yang akan menjadi dindingmu."

Lalu kukecup keningnya. Lama. Dan akhirnya aku tertidur karena terlalu lelah.

***

Aku membuka mata.

Cahaya matahari sudah terlihat terik. Menandakan waktu mungkin sudah menunjukkan antara pukul 11 atau 12 siang.

Kami kesiangan? Biasanya Ellea bangun pagi-pagi sekali.

Tanganku bergeser. Lalu menyadari ada sesuatu yang lembab di atas ranjang. Sesuatu yang lembab tepat di sebelah tubuh Ellea.

Aku mengangkat separuh tubuh. Agar terlihat lembab apa itu.

Napasku tertahan. Bukan. Bukan tertahan. Tapi mungkin terhenti selama beberapa detik. Menyadari bahwa sesuatu yang lembab dan sedikit berlendir itu ...

Darah.

Darah yang sama mulai mengering di pergelangan tangan kiri Ellea.

Gadis itu tetap diam saat aku menggoncang tubuhnya. Berusaha membangunkan dengan tepukan di pipi yang kini sedingin es. Sementara matanya yang setengah terpejam, terlihat begitu kosong.

Bahkan aura wajahnya sudah terlihat berbeda.

Pucat. Pias. Tanpa kehidupan.

"Ellea ...!" Akhirnya aku bisa bersuara.

Sambil menggoncangkan tubuh tanpa daya itu semakin keras.

"Ellea ...!!"

Aku membuka mulutnya yang berwarna kebiruan. Mencoba membuat dada yang tak berhela napas itu bergerak dengan meniupkan udara ke dalam sana. Merasakan bibir yang semalam terasa hangat dan lembut, kini seperti daging dingin tanpa rasa.

Aku menarik diri. Menatap wajah yang semalam masih kulihat ronanya.

"Ellea ...!!"

Pandanganku mulai dipenuhi kaca-kaca yang berebut untuk berjatuhan.

Masih kuingat kata-katanya semalam.

"Jiwa yang cantik tidak seharusnya merepotkan orang yang dicintai seumur hidup ..."

Aku mengguncangnya lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Walau aku tahu dia sudah pergi.

"Ellea ...! Ellea ..!!"

 Penulis: Patrick Kellan

14       15       16
Reactions:
SHARE:

2 Komentar untuk "Kisah Tertulis 15"

😫😫 lama banget lanjutannya... Kapan posting lanjutannya?

Nantilah. Sekarang lagi sibuk. Gak sempat mau posting blog.

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top