Kisah Tertulis 5 - Saifullah

Kisah Tertulis 5

Rumah Ellea terlihat asing sekarang. Sebuah keluarga kecil dari kota lain yang membelinya. Kami tidak terlalu akrab, hanya saling sapa seperti layaknya tetangga.

Sementara aku hampir setiap hari keluar rumah untuk melamar pekerjaan. Kadang aku merasa malu. Karena beberapa kali berada dalam satu bus dengan teman satu sekolah dulu.

Seperti hari ini.

"Hei!" Seseorang duduk di sebelahku. Aku ingat namanya, Richie. Si tambun teman sekelas yang nilainya jauh di bawahku.

Kulihat dia mengenakan seragam almamater universitas unggulan di kota kami. Dan itu membuatku ... merasa sedikit rendah.

Maksudku, lihatlah diriku. Mengenakan baju kemeja putih dengan celana kain warna hitam ditambah sepatu yang warnanya sedikit memudar. Membawa map coklat berisi surat-surat syarat lamaran pekerjaan. 

Kami duduk bersebelahan dalam bus. Bersebelahan menuju nasib yang berbeda.

Kadang, takdir memang selucu itu. Saat si cerdas harus pontang-panting mencari pekerjaan kelas bawah, sementara si bodoh mengenakan seragam yang mempersiapkannya menjadi seorang atasan. 

Atasan bagi si cerdas.

Sial bukan?

"Kau tidak meneruskan pendidikan?" Dia bertanya sambil lalu.

"Tidak," jawabku.

"Ohh. Jadi sekarang kau sedang mencari pekerjaan?"

"Ya."

Dia mengangguk-angguk. 

"Ke perusahaan mana?" tanyanya lagi.

"Entah."

"Oke. Semoga berhasil mendapat pekerjaan yang layak."

Aku mengangguk. Entah kenapa itu sedikit menyakitkan. Pekerjaan yang layak? Pekerjaan apa yang layak untuk seorang pemuda lulusan sekolah menengah sepertiku?

Bus berhenti. Lalu aku berpaling ke arah gedung megah itu. Gedung dimana ratusan, atau bahkan ribuan pelajar baru datang dari berbagai kota. Kulihat Richie melangkah ke halamannya. 

Terlihat begitu gagah.

Aku mengalihkan pandangan ke map di atas pangkuan. Lalu tersenyum menertawakan takdir sendiri. 

Dulu, di kelas empat SD aku pernah bertanya pada seorang guru. Bukan, kali ini bukan Bu Leni. Aku bertanya, apa yang dilakukan Tuhan di atas sana. Dia hanya menjadi penonton setelah menentukan hidup seseorang, atau ikut menjalankan seperti layaknya seorang dalang? Jika memang semua yang terjadi atas keinginan-Nya, bukankah itu jahat saat membiarkan seseorang mengalami penderitaan dan Dia mendiamkannya?

Waktu itu jawaban Bu guru tidak memuaskanku. Dan akhirnya aku terus bertanya pada diri sendiri. 

Kenapa Tuhan membiarkan hal-hal buruk terjadi? Kenapa harus ada pembunuhan, penyiksaan, dan kesedihan?

Tapi sepertinya hari ini aku mendapat jawabannya. Itu karena setiap kelahiran, akan menjadi pelajaran bagi mereka yang di sekitarnya. Pelajaran tentang hidup, juga tentang bagaimana menunjukkan kasih sayang.

Ah, entahlah. Itu hanya pemikiranku saja.

.

Aku berhenti di bawah sebuah pohon besar tepat di depan halaman sebuah bangunan bercat abu-abu kelam. Beristirahat setelah hampir seharian berkeliling melamar beberapa perusaahaan.

Tanpa hasil.

Terlihat beberapa orang dengan pakaian tidak terlalu rapi berjalan keluar masuk dari pintu kaca yang terbuka. Bahkan kebanyakan dari mereka berambut gondrong dan sepatu seadanya.

"Hei, kau mau mendaftar di sini juga?" 

Aku sedikit terhentak saat mendengar seseorang bicara. Lalu menoleh. 

Terlihat seorang gadis bermata lebar dengan rambut hitam lurus sebahu. Warna kulitnya benar-benar jernih, ah, maksudku putih dan halus.

"Aku juga!" Dia menjawab sendiri pertanyaannya setelah melihat map yang kupegang berwarna sama dengan yang dibawanya.

Padahal yang kubawa adalah map berisi berkas-berkas lamaran pekerjaan. 

"Kau ingin mendaftar di kelas apa? Melukis? Teather? Atau ... menulis?" 

"Aku ..."

Menulis? Bukankah itu kedengarannya sangat cocok untukku?

"Ingin menulis." Aku setengah bergumam.

"Berarti kita sama!" Dia tersenyum lebar. Kulihat matanya berbinar. Sedikit aneh. Dia bahagia hanya karena hal sesepele itu?

"Oh ya, namamu siapa?" tanyanya.

"Athaya."

"Kenalin, aku Aimee!" Dia mengulurkan tangan.

Aimee? Terdengar seperti merk benda atau semacam itu.

Dia menarik kembali tangan yang tak kusambut itu. Sedikit meringis. Merasa malu mungkin.

"Kau suka menulis?" Dia duduk di sebelahku. Tanpa perasaan risih sama sekali.

"Ya."

"Suka membuat cerita?"

"Ya."

"Cerita apa saja?"

"Kisah percintaan."

"Oh, wow. Itu keren!"

Aku mengalihkan pandangan kembali ke arah gedung. Sesaat, hening menyelimuti. Hanya terdengar suara kendaraan di jalan sana.

"Siapa penulis favoritmu?" Dia bertanya lagi. Benar-benar gadis yang tidak tahan dengan kesunyian.

"Tidak ada."

"Tidak mungkin tidak ada. Seorang penulis biasanya punya penulis senior yang difavoritkan. Atau setidaknya seorang penulis yang membuatnya terinspirasi untuk membuat karya!" Dia memaksakan pendapatnya.

Aku terdiam. Lalu,

" ... Ellea."

"Ellea? Aku tidak pernah dengar nama penulis itu?"

Aku berdehem, sedikit malu, "Maksudku ... aku tidak pernah membaca novel akhir-akhir ini. Jadi tidak tahu nama penulis ..."

"Ohh ..." dia mengangguk-angguk.

Hening lagi.

"Uhm ... kau ingin membaca tulisanku?" Dia mengulurkan kertas dari dalam map yang dibawanya.

Aku menatapnya sebentar, lalu menerima lembar kertas itu. Kemudian mulai membaca isinya.

God! Jelek sekali! Bahkan aku merasa bosan di paragraf awal ceritanya dimulai.

"Bagaimana menurutmu?" Matanya berbinar saat meminta pendapat.

"Bagus."

"Benarkah? Terimakasih!" Dia tersenyum lebar sambil mengambil kembali kertas yang kuulurkan.

"Kenapa membawa tulisanmu di dalam map itu? Apa itu salah satu persyaratan untuk mendaftar?"

Dia menganggukkan kepala. 

"Ya! Kita harus memperlihatkan contoh tulisan agar mereka bisa menilai apa kita layak bergabung atau tidak. Karena ini hanya semacam komunitas, bukan tempat belajar. Maksudku ... bukan belajar secara formil seperti di sekolah."

Aku terdiam.

"Ayo masuk!" Dia bangkit berdiri. 

Aku menatapnya ragu.

"Kenapa?" tanyanya menangkap ekspresiku. 

"Apa ada batasan hari untuk mendaftar?" Aku balik bertanya.

"Umm .... aku rasa tidak!" 

"Kalau begitu jangan daftar sekarang."

"Kenapa?" 

"Karena tulisan yang kau bawa itu ... tidak meyakinkan!"

Dia menatapku. Lalu wajahnya mulai memerah.

***

Tadinya Aimee sedikit marah. Dia bilang aku sangat tidak sopan karena mengatai tulisan yang ia buat dengan segenap kemampuan. 

Kami sedikit berdebat. Aku menunjukkan di mana letak semua kesalahannya hingga dia terdiam. Kemudian, akhirnya Aimee bilang mungkin aku memang benar. 

Aku menang. Tapi bukan itu maksudku. 

Aku hanya ingin membantu. Karena aku tidak yakin dia bisa diterima dengan hasil tulisan seburuk itu. Maksudku bukan hanya cara bercerita yang membosankan, tapi juga  salah penempatan tanda baca dan sebagainya hingga aku meragukan apa saat di sekolah dia benar-benar ... 'sekolah'?

Hari ini, kembali kami bertemu di tempat yang sama. Di waktu yang sama.

Kali ini dia datang duluan. Mengenakan celana jeans dengan kaos cukup simpel memperlihatkan lekuk tubuh yang menarik. 

"Hei!" Dia berbinar saat melihatku datang.

Aku mengulurkan selembar kertas padanya.

"Aku menulis ulang tanpa merubah ide cerita. Baca saja. Lalu beritahu aku jika ada yang tidak kau suka," ucapku datar.

Dia meraih kertas yang kuulurkan. Lalu dengan penuh semangat membaca isinya. Matanya semakin berbinar saat membaca paragraf akhir.

"Wow! Athaya, ini jauh lebih keren!" 

Aku mengalihkan pandangan ke arah bangunan sederhana itu. 

Tentu saja aku ingin sekali ikut bergabung di sana. Tapi ... aku harus bekerja. Dan tak punya cukup uang untuk membayar biaya pendaftarannya.

"Baiklah, aku harus pergi sekarang," pamitku.

"Athaya?"

"Ya?"

"Kau tidak ikut mendaftar?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Aku ... tidak punya cukup waktu. Aku harus bekerja."

"Kita bisa mengambil jam malam!"

Aku terdiam.

"Dengar ... kurasa kau cukup berbakat. Sayang sekali jika kau harus membuang itu begitu saja ..."

Aku mengangkat bahu. Lalu berbalik akan meninggalkannya.

"Athaya!"

"Ya?"

"Besok ... bisakah kau datang lagi?"

"Entah."

"Kumohon, datang ya!"

"Aku tidak tau. Mungkin saja besok aku sudah mendapat pekerjaan."

"Kalau begitu ... bekerjalah padaku!"

"Apa?"

"Bekerja padaku."

Aku terdiam. 

"Bekerja jadi guru privat menulisku. Aku akan membayarmu di setiap kali pertemuan!"

Aku menatapnya. Ragu. 

"Aku tidak punya pengalaman belajar ilmu sastra. Selama ini aku menulis hanya untuk menyenangkan hati seseorang ..."

Dia menyambar map lamaran pekerjaan di tanganku. Lalu merogoh lembar tulisan berisi surat lamaran, meremas, kemudian melemparnya entah kemana.

Mataku membesar.

"Athaya, kau diterima!" 

Aku sedikit kaget. Kemudian memalingkan wajah, dan tertawa.

Penulis: Patrick Kellan

4       5       6
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top