Kisah Tertulis 7 - Saifullah

Kisah Tertulis 7

"Siapa Ellea?" Aimee masih saja bertanya.

Aku tak menjawab. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bersisian kami menyusuri trotoar menuju bangunan seni yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah Aimee.

Aimee memang sedikit memaksa untuk ikut bergabung bersamanya. Dia bilang aku punya bakat alami dalam menulis cerita yang keren. Tapi kupikir mungkin juga sebenarnya dia hanya ingin aku menemani saat belajar dan memberitahu semua yang tidak dia bisa.

"Athaya! Aku bertanya padamu!" Aimee menarik-narik lengan kemejaku.

Aku menoleh.

"Beritahu aku ..."

Sebenarnya aku tak ingin membicarakan ini. Tapi aku tahu Aimee tak akan berhenti sebelum aku menjawabnya.

"Gadisku," jawabku datar.

Matanya membesar. Raut wajah yang tadinya terlihat begitu penasaran, kini menguap entah kemana.

Lalu hening di antara kami.

Cuaca cerah hari ini. Angin berembus hingga menggugurkan dedaunan. Pernah suatu kali aku mengajak Ellea keluar dan berjalan di sepanjang trotoar. Menikmati hembusan angin dan luruhnya daun-daun. Tentu saja kugandeng tangannya. Ellea terlihat bahagia tiap kali angin berembus dan menerpa rambutnya.

Rambut yang menguarkan wangi shampo susu. Wangi sekali. Wangi tapi ada kelembutan di sana. Sama. Seperti jiwa Ellea ...

Tapi kemudian ayahnya marah saat mengetahui aku mengajaknya keluar. Dia membentak-bentak Ellea di depanku. Bukan membentakku. Tapi itu rasanya dua kali lipat lebih menyakitkan.

"Athaya ..." Akhirnya Aimee kembali bicara.

"Ya?"

"Kau bilang itu matanya. Apa maksudmu bahwa kau hanya ingin melihatnya saja?" tanya gadis itu. Polos.

Aku menarik napas.

"Ini mata Ellea. Dalam arti kiasan, juga dalam arti sebenarnya."

Aimee terdiam. Lama.

.

Ruangan bercat abu-abu itu cukup besar hingga dapat menampung puluhan orang. Di sana, mereka duduk di kursi dengan meja putih kecil di depannya. Sementara para senior, atau mungkin editor -entahlah- memberi penjelasan tentang tekhnik tulisan dan semacamnya itu.

"Dengar, kau harus menunjukkan tulisanmu lebih dulu." Aimee berbisik.

Aku mengedarkan pandangan, lalu mendapati seseorang yang dimaksud Aimee tadi. Orang yang akan menentukan tulisanku layak diterima atau tidak.

"Aku menunggumu di sana!" Aimee menunjuk ke arah deretan kursi sebelah kiri. Lalu gadis itu berjalan cepat ke sana.

Aku menatap map berisi lembar persyaratan dan contoh tulisan yang akan diperlihatkan. Setelah menghela napas, akhirnya berjalan ke arah pria berambut hitam dan sedikit acak-acakan.

Dia menatapku tajam, seperti tengah menilai siapa yang berada di hadapannya. Lalu tanpa banyak bicara, tangan kurus itu memberi isyarat agar aku segera duduk dan membuka map yang dibawa.

Membuka lembar demi lembar, tanpa ekspresi sama sekali. Datar. Lalu dibacanya cerita yang kutulis dengan penuh konsentrasi.

Aku berpaling ke arah mereka yang sedang serius mendengarkan penjelasan. Sesekali mencatat apa yang dianggap perlu, dan sesekali terjadi tanya jawab seputar ilmu literasi dan dunia penulis.

Aku tersenyum. Ini keren!

"Ehm- " Pria di belakang meja berdehem. Menyadari aku begitu serius menatap ke arah sana dan hampir melupakan dirinya.

"Bagaimana?" Akhirnya aku tak sabar untuk bertanya hasilnya.

"Tulisan ini bagus," sahutnya sambil mengangguk-angguk.

Sudah kuduga.

"Boleh dikritik?" Matanya menyorot tajam padaku.

Aku mengangkat satu alis.

Kritik?

Belum pernah ada yang bilang tulisanku kurang bagus. Oke baiklah, dengarkan dulu penjelasannya.

"Tentu saja," jawabku.

Dia menarik napas sambil tersenyum miring.

"Setting kurang jelas."

"Kurang jelas?" Mataku menyipit.

"Dialog seperti ini untuk cerita di negara dengan gaya bahasa yang jauh berbeda. Menyebutkan sebuah nama kota tapi kau seperti sedang meraba pemandangan di sana!"

Aku terdiam. Dengan raut wajah yang mungkin terlihat sudah mulai keruh.

"Lagi?" Dia menyeringai.

"Ya."

"Di beberapa percakapan, karakter tokoh sedikit melenceng."

"Itu karena dalam kondisi seperti itu memang hampir semua orang pasti melakukan hal yang sama!" Aku menyanggah.

"Tapi bukan berlebihan seperti ini!"

Berlebihan katanya? Aku tahu aku tidak berlebihan!

"Lagi?" Dia terlihat mulai mengejek.

"Oke."

"Penggambaran suasana agak kaku. Ada beberapa scene yang tidak masuk akal."

Pemikirannya yang tidak masuk akal! Kelihatan sok tahu sekali!

"Masih ingin mendengar?"

"Hmm." Kali ini suaraku seperti mulai tertelan harga diri.

"Dan makanan kafe yang kau tuliskan itu. Itu bukan makanan, itu minuman!"

Wajahku memerah.

Malu. Dan ... tidak terima!

"Berimajinasilah semaumu, tapi juga pakai logika! Memang benar ini cerita fiksi, tapi bukan fantasi!"

Mulutku terkatup rapat.

Dan sepertinya pria ini sangat menikmati pemandangan raut wajah yang mengeras di hadapannya.

"Aku akui ini memang bagus. Ide dan feel cerita yang kau buat sudah menyatu hingga bisa membuat pembaca membayangkan adegan demi adegan yang kau tuliskan."

Aku mendengarkan.

Dia menghela napas dan menyandarkan bahunya di sandaran kursi.

"Ceritamu mempesona, sayangnya aku sering membaca yang lebih sempurna dari itu."

Panas.

"Tapi aku tetap menerimamu. Selamat bergabung!"

Aku berdiri.

"Baiklah, permisi," ucapku.

Dia mendongak saat aku berdiri.

Lalu berjalan dengan langkah lebar. Bukan bergabung dalam deretan kursi para calon penulis lain, tapi keluar dari ruangan.

Dia menghina karyaku, dan aku tidak terima!

Sialan!

"Athaya!"

Masih kudengar suara Aimee di belakang, mengejar. Tapi aku sudah tak terkejar lagi.

***

"Tulisanmu sudah jauh lebih baik sekarang." Aku membereskan buku-buku dan memasukannya ke dalam tas.

Sementara di seberang meja sana Aimee mengerjapkan matanya. Senang.

"Aku pulang," pamitku sambil menggendong tas ransel di bahu.

"Hei!" Aimee memprotes.

Aku menoleh.

"Kau benar-benar tidak mau ikut bergabung di sana?"

Aku berpaling ke arah lain.

"Tapi kan kemarin kau diterima!"

"Ya," jawabku.

"Lalu kenapa malah memilih pulang? Kau tau, tidak semua orang bisa langsung diterima di sana. Bahkan banyak yang ditolak begitu saja."

Aku menarik napas.

"Apa itu ... karena mereka mengkritik karyamu?" Suaranya terdengar hati-hati.

Hening.

"Dengar, orang yang mau menerima kritik itu pasti akan jadi lebih besar nantinya. Sementara orang yang tidak mau dikritik, tidak akan pernah tahu kesalahan yang dibuatnya. Itu membuat mereka berjalan ditempat. Tidak pernah berkembang."

Aku tak menjawab. Tapi aku tahu dia benar.

"Setidaknya sekarang kau tahu bagaimana rasanya jadi aku, kan?"

Aku berpaling ke arah lain.

Aimee memang seringkali mengatakan hal-hal yang sama sekali tak berisi, tapi kali ini kupikir Aimee benar. Seseorang tidak akan pernah berkembang jika tidak pernah menerima kritik dari orang lain. Dan juga sadar bahwa dikritik dengan kata-kata merendahkan, itu sangat menyakitkan.

"Aku tidak membayangkan bagaimana reaksimu jika dia mengetuk kepala dengan pena, lalu saat kau memprotes kenapa dia melakukannya, dia berkata, hanya untuk memastikan apa di dalam situ ada isinya!" Aimee menyindir, kemudian menjulurkan lidah ke arahku.

Mataku membesar. Tapi kali ini, aku tertawa.

***

Semalaman aku membaca ulang cerita yang pernah kutulis di dalam kamar. Masih saja merasa ini adalah cerita yang sempurna, terutama karena aku membuatnya untuk Ellea.

Aku menarik napas. Mengembuskannya dengan kasar. Tak kutemukan di mana letak kesalahannya. Menurutku, ini semua sudah benar-benar pas. Lalu apa lagi? Apa ini hanya karena dia tidak menyukaiku?

Aku berdecak. Tidak menyukai seseorang tanpa alasan? Yang benar saja!

Apa ini karena wajah? Dia sempat bilang pemuda sepertiku biasanya hanya menjual penampilan.

Ah, lupakan!

Selama berjam-jam terdiam. Hanya menatap keluar lewat jendela kamar. Hanya terlihat tembok, tanpa suara Ellea.

Ellea ...

Ah, tunggu. Dulu, Ellea pernah memberi komentar bahwa cerita Napoleon Bonaparte yang kubacakan tidak terlalu menarik.

Aku menarik diri ke atas kursi, meraih beberapa buku, lalu mulai membaca ulang.

Bedanya kali ini ... aku memposisikan diri sebagai pembaca. Bukan pengarangnya.

Kubaca lagi. Kubaca berulang-ulang. Hingga kutemukan beberapa kejanggalannya.

Mataku menyipit. Ini aneh!

Lalu membaca yang lainnya. Apa yang si tokoh lakukan ini seperti di luar logika. Kemudian di beberapa adegan lain baru kusadari kejanggalannya. Merasa tertampar, karena sebagai pemula, sikapku terlalu kasar.

***

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan besar itu lagi. Bersama Aimee yang berkali meyakinkanku bahwa aku harus kembali ke sini.

Suasana mulai hening, karena tukar pemikiran antara calon penulis sudah dimulai.

Setelah melambaikan tangannya padaku, Aimee segera bergabung bersama mereka. Seenaknya menyelipkan diri tanpa memilih apakah itu pantas jika duduk terlalu dekat dengan pemuda yang tak dikenalnya atau tidak. Lalu dalam hitungan menit mulai terlihat akrab dengan siapa saja.

Kadang aku ingin seperti itu. Tertawa lepas tanpa merasa kaku.

Pria kemarin menatapku saat melihatku mendekat, dan berdiri tepat di balik meja.

"Berubah pikiran?" Senyumnya tersungging.

Aku menarik napas, "Ya."

"Bagus," ucapnya setengah bergumam sambil melangkah memutari meja. Berdiri bersandar sambil menatap kedua mataku lekat.

"Kau berbakat. Sangat berbakat. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menjadi penulis besar. Hanya saja ... seharusnya seorang penulis tidak hanya memakai pemikirannya saja. Tapi juga ini!" Dia menunjuk tepat di dadaku.

Aku terdiam.

"Aku tahu, sangat menyakitkan saat kesalahan kita dikuliti secara terang-terangan. Tapi mengertilah. Itu untuk kebaikanmu. Di luar sana, bahkan mereka yang tidak tahu sama sekali tentang literasi, yang tidak tahu bagaimana proses sebuah ide menjadi tulisan yang seharusnya diapresiasi, akan mengomentarimu. Tanpa ampun. Jauh lebih menyakitkan. Apa saat itu terjadi kau akan marah dan adu mulut dengan mereka? Tentu saja tidak, mereka tak peduli. Mereka hanya sekedar ingin memuaskan hati setelah karyamu dibeli!"

Kini, aku mulai merasakan kehangatan dalam kata-katanya.

"Ambil kritik yang membangun, lalu terapkan itu di kemudian hari. Sampai mereka tak punya sela untuk menyakiti hatimu."

Dia menepuk bahuku, kali ini aku tersenyum.

***

Kami pulang menjelang malam. Di atas sana terlihat taburan bintang. Langitnya cerah dengan bulan separuh bercahaya kekuningan di atas sana.

Kami mengusuri trotoar.

Di sepanjang jalan Aimee bercerita. Kadang aku mendengarkan dan kadang tidak. Berkali dia menunjuk entah ke arah mana. Lalu meminta pendapatku tentang apa yang ditunjuknya.

Sementara di kepalaku, hanya terpikir Ellea.

Malam itu. Dimana aku membacakan puisi untuknya, lalu kami berciuman. Rasanya begitu memabukkan.

Ellea, apa di sana dia punya seseorang yang mau membacakan cerita untuknya? Atau seseorang yang dengan sabar menjelaskan bagaimana bentuk langit, bulan, bintang, dan hujan.

Atau ... dia hanya terdiam di sudut kamar. Sendirian. Tanpa ada seorangpun yang bisa diajak bicara. Jangan. Jangan seperti itu keadaannya. Aku tak terima. Hanya membayangkan saja sudah membuat hatiku menderita.

"Kau dengar aku Athaya? Mereka bilang kau calon penulis paling keren di sana! Gadis-gadis itu mulai berbisik-bisik tentangmu!" Aimee masih bicara diselingi tawa.

Terlihat begitu bahagia.

Saat ini, aku berjalan dengan seorang gadis. Kami bicara, kadang juga tertawa. Apa ini sudah termasuk penghianatan? Apa aku sudah mengkhianatimu .. Ellea?

"Aah!"

Aku menyambar lengan Aimee. Menahannya, hingga jarak kami begitu dekat. Hingga bisa kucium wangi rambutnya. Merasakan keharuman yang berbeda.

Aimee mengerjapkan mata. Menatapku, gugup.

Aku balas menatapnya. Lalu,

Penulis: Patrick Kellan

6       7       8
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top