Kisah Tertulis 8 - Saifullah

Kisah Tertulis 8

Lalu, aku melepaskan lengannya kesal.

"Apa kau tak bisa sedikit lebih serius? Bahkan berjalan pun kau tidak melakukannya dengan benar!" Dengusku.

Aimee melotot.

"Lalu apa kau bisa sedikit lebih santai? Kenapa hidupmu terlalu serius? Karena itu kau terlihat tua meskipun wajahmu tampan!"

Eh?

Dia menggigit bibir, menyadari ucapannya.

Kami saling bertatapan.

"Maksudku ... wajahmu terlihat seperti orang baik. Umm ... dan keren. Ah, lupakan!" Aimee berjalan mendahuluiku untuk menyembunyikan wajahnya yang gugup.

Aku menghela napas.

Setelah itu kami meneruskan perjalanan pulang dalam keheningan.

***

Hanya dalam waktu singkat, aku sudah cukup dikenal di sana. Mungkin karena tulisanku, atau mungkin karena wajah. Entah.

Kadang, mereka bilang tulisanku disukai karena aku bersikap baik. Benarkah? Terserahlah. Aku tak peduli apa pendapat mereka.

Yang kutahu, aku sangat menikmati setiap kali tulisan yang kubuat mendapat banyak apresiasi. Bukan. Jika kau pikir ini hanya tentang pujian, itu tidak benar. Aku tidak senaif itu. Jika kau pikir ini tentang materi, itu juga bukan.

Ini kebahagiaanku.

Ada rasa puas saat berhasil mempermainkan perasaan seseorang dengan tulisan yang kubuat. Itu rasanya sangat memuaskan. Mengurangi bebanku.

Beban tentang memikirkan Ellea, dan beban akan tanggung jawab pekerjaan. Walaupun kondisi ayah sudah cukup membaik dan sudah bisa bekerja lagi.

"Athaya!" Terdengar panggilan ibu.

Dahiku mengernyit. Apa sudah saatnya mengantar Aluryn ke sekolahnya? Tapi ini masih terlalu pagi.

Aku meletakkan buku yang kubaca, menggeser kursi dan bangkit berdiri. Sempat melirik wajah Ellea, lalu melangkah keluar kamar.

Ibu berdiri di depan pintu kamar. Saat aku menatapnya, dia menunjuk ke ruang tamu. Di sana ayah menunggu.

Saat melihatku datang, ayah memberi isyarat agar aku duduk di kursi yang satunya. Aku mengikuti perintahnya. Sedikit penasaran, karena sepertinya ia akan memberitahu sesuatu yang serius.

"Ayah tahu kau bekerja sebagai guru privat." Dia membuka pembicaraan.

"Ya."

"Tapi, pekerjaan sebagai guru yang mengajari satu orang murid, itu tidaklah cukup untuk masa depanmu."

Aku setuju. Itu sebabnya setelah mengajari Aimee, sesekali aku pergi untuk melamar pekerjaan. Kadang Aimee menertawakan penampilanku saat datang ke rumahnya. Terlalu formil, seperti seorang guru. Mungkin itu karena aku mengenakan kemeja dan celana hitam sambil membawa map lamaran pekerjaan.

Mungkin dia menertawakanku. Mungkin juga tidak. Lagipula Aimee memang terlalu banyak tertawa pada hal-hal yang menurutku sama sekali tidak lucu. Bahkan kadang dia menertawakan ekspresi wajahku. Aneh.

"Aku berusaha mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan selain itu, Ayah."

Ayah menghela napas. Lalu menyesap teh hangat dalam cangkir.

"Ayah punya teman baik di kota."

Aku menatapnya. Mulai menebak-nebak apa maksud dari ucapan ayah.

"Beberapa hari lalu aku menghubunginya," Ayah memberi jeda, "aku menceritakan tentangmu."

"Tentangku? Aku apa?" Mataku menyipit.

"Bahwa kau sedang mencari pekerjaan saat ini."

Aku terdiam. Mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini.

"Lalu?"

"Dia bilang kau datang saja padanya. Dia akan menerimamu bekerja di salah satu restoran miliknya."

Lagi, aku terdiam.

"Di sana cukup menjanjikan masa depanmu, Athaya. Setidaknya saat kau punya modal kau bisa membuka usaha sepertinya, karena sudah mendapat ilmu dari tempatmu bekerja."

Mulutku terkatup rapat.

"Kau setuju?" Ayah menatapku lewat mata teduhnya, "kuharap kau berpikir sama seperti ayah."

Aku menarik napas.

"Apa sudah selesai pembicaraannya? Aku harus berangkat sekolah sekarang." Aluryn menyela pembicaraan kami. Wajahnya terlihat cemas karena jam sudah menunjuk angka sepuluh. Seharusnya dia berangkat sekitar 10 menit yang lalu.

Aku bangkit berdiri. "Akan kupikirkan, Yah."

Ayah mengangguk-angguk.

Lalu aku segera memakai sepatu berwarna hitam pudar yang selalu kukenakan setiap kali mencari pekerjaan. Satu-satunya sepatu formil yang kupunya.

***

Setelah melambaikan tangan padaku, Aluryn berlari masuk dari pintu gerbang sekolahnya. Segera bergabung dengan anak-anak berseragam sama.

Aluryn anak yang cerdas. Sama sepertiku. Hanya saja bedanya dia lebih suka melukis daripada menulis. Tidak apa, itu juga bagus. Tapi untuk mendapatkan pekerjaan dari itu, sepertinya butuh usaha yang sedikit melelahkan.

Kami berdua sama. Berbakat di bidang seni. Akan sangat menyedihkan jika dia pun harus mengalami nasib yang sama. Aku tidak akan membiarkannya bernasib sepertiku. Setidaknya, dia harus mendapat pendidikan yang lebih tinggi.

Aku memasuki halaman rumah Aimee. Kulihat gadis itu sedang duduk di atas ayunan warna putih yang tergantung di bawah sebuah pohon.

"Sini!" Dia melambaikan tangan. Seperti biasa wajahnya terlihat ceria.

Beberapa orang bisa merasa bahagia karena melihat hal-hal yang sangat biasa. Melihat langit begitu cerah, melihat kupu-kupu, atau melihat wajahku.

"Bagaimana kalau kita belajar di sini saja?" Dia mengusulkan, saat aku sudah berdiri beberapa langkah di depannya.

Aku tahu dia tidak ingin belajar.

"Athaya, dorong aku!" Pintanya.

Aku hanya diam.

"Athaya!"

Aku masih diam.

Bibirnya mulai mengerucut, "Cuma diminta mengayun saja tidak mau. Menyebalkan sekali!"

"Aimee ..."

"Apa?"

"Tadi pagi ayah memintaku bekerja di kota."

Matanya membesar. Raut wajahnya yang semula diliputi kebahagiaan kini menguap seketika. Dia berhenti mengayunkan kaki. Menatapku dengan tatapan seolah aku akan pergi lama dan tak akan pernah bertemu lagi.

"Apa kau ... setuju?"

"Aku tidak tahu."

"Kau tidak tahu? Kenapa tidak tahu? Kau berhak menentukan mau atau tidak!" Suaranya sedikit meninggi.

"Tapi aku memang butuh pekerjaan, untuk masa depan."

"Aku akan membayarmu dua kali lipat!"

Mataku menyipit tajam ke arahnya. "Jadi kau pikir aku mengajarimu karena uang? Aku mengajarimu karena memang aku ingin!"

Dia terdiam. Entah apa yang dipikirkan, tapi dia menatapku begitu lama.

"Jadi ... kau akan setuju pergi ke kota? Katakan padaku, kau akan pergi ...?" Sekarang suaranya mulai melemah.

Aku berpaling ke arah lain.

"Aku ... entahlah. Ini sulit."

"Apa kau merasa sulit karena ... aku?"

Dia menatapku. Aku balas menatapnya.

"Bukan ..."

Kuhancurkan binar itu. Binar yang sekilas tadi terlihat, kini lenyap.

"Lalu?"

"Karena jika aku pergi ... bagaimana Ellea akan menemukanku... di sini?"

Hening.

"Aku ingin berdiri di tempat yang sama saat dia meninggalkanku. Jadi saat dia kembali, dia tahu kemana harus mencari."

***

Kami berjalan bersisian di sepanjang trotoar.

Menuju gedung dimana para pencerita menuangkan karya, dimana para penyair melukiskan dunia dengan sajaknya.

Entah untuk keberapa ratus kali kami berjalan bersisian seperti ini. Menyusuri trotoar diiringi luruhnya dedaunan yang mengering dan tertiup angin.

Sementara kendaraan sesekali melintas meninggalkan aroma mesin.

Dan untuk kesekian kalinya Aimee hampir saja terjatuh jika aku tidak menarik lengannya.

"Pakai penglihatanmu!" Aku melepaskan tangan saat dia sudah berdiri dengan benar.

"Tidak romantis!" Ketusnya.

Apa?

"Kau memang tidak tahu cara berpikir wanita!"

Mataku menyipit.

"Seharusnya saat aku akan jatuh kau bisa berbuat yang jauh lebih baik!" Dia terus mengomel.

Oh, aku mengerti sekarang. Apa dia memang sengaja terpeleset agar aku menariknya dengan manis? Astaga, benar-benar ...! Aku menggelengkan kepala menyadari tingkah konyolnya.

"Aku tidak mengerti ..." kini gadis itu setengah bergumam, "bagaimana seseorang yang dingin dan kaku sepertimu ... bisa mencintai seseorang begitu hebatnya ..."

Aku menoleh.

"Aku ... cemburu pada Ellea."

.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Tidak seperti biasa, kali ini Aimee tidak langsung membenamkan diri di antara kerumunan yang lain. Dia hanya berdiri di sampingku. Diam. Sementara semakin banyak yang berbisik-bisik membicarakan kami.

Mereka pikir ada hubungan yang spesial di antara kami. Mungkin karena kami terlihat selalu bersama. Maksudku datang dan pulang selalu berdua saja.

Aimee bilang, beberapa gadis mencoba menekannya. Menginterogasi tentang siapa dia bagiku. Kadang, cara mereka bertanya sedikit kasar. Kadang hanya menyindir. Dan kadang hanya mengawasi.

"Jangan pedulikan," ucapku tiap kali Aimee mengadu.

"Oke, tidak!" Dia meyakinkan. Meyakinkan bahwa dia tidak peduli dengan tekanan mereka. Tapi aku tidak sepenuhnya yakin. Hanya saja aku tidak mengatakannya.

"Hei, Athaya!" Terdengar panggilan dari sisi ruangan.

Aku menoleh.

Ternyata Pak Sam yang memanggil. Dia senior yang paling senior di sini. Ah, maksudku, dia penulis yang cukup terkenal.

Wow.

Tadinya aku akan berjalan mendekat, tapi ternyata dia yang lebih dulu mendatangiku.

"Ya, Pak?" Aku menyalaminya.

Dia tersenyum, "Aku mendengar banyak tentangmu."

Hatiku sedikit membesar. Apa itu berarti dia tengah memperhatikanku? Entahlah, tapi aku harap memang begitu.

"Aku menilai tulisan-tulisan yang kau buat, dan itu cukup menarik."

Aku tersenyum. Lalu? Tapi tidak kuucapkan.

"Karena itu, aku menawarkan padamu. Bagaimana kalau kau menerbitkan salah satu tulisanmu?"

Mataku membesar.

"Ah .. ya, Pak!" Cuma itu yang bisa kuucapkan. Maksudku, aku memang tidak bisa berbasa-basi.

Dia menepuk bahuku.

"Berikan naskahnya padaku, aku akan memberi penilaian, apakah itu pantas untuk diterbitkan atau tidak."

"Baik, Pak!"

Lagi, dia tersenyum. Lalu melangkah pergi.

Baru saja aku menoleh pada Aimee untuk melihat reaksinya. Tapi segera terdiam saat gadis itu memelukku erat.

Penulis: Patrick Kellan

7       8       9
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top