Kisah Tertulis - Saifullah

Kisah Tertulis

Dia bernama Ellea. Kepada siapa kuliarkan gerak pena, kepada siapa setiap aksara dalam puisiku bermuara.

Dia bernama Ellea. Wanita dengan lekuk sempurna yang kecantikannya tak terlihat oleh mata dunia. Karena yang ia tunjukkan hanyalah curahan airmata.

Namanya Ellea. Gadis yang membuatku bertanya, apa hidup berdua saja dengan seseorang juga termasuk sebuah cita-cita?

"Athaya!" Bu Leni menyadarkanku dari lamunan. Bayangan wajah Ellea menghilang, berganti dengan sosok wanita setengah baya di depan ruangan.

Untuk beberapa saat kami saling diam. Hingga akhirnya kusadari tadi ia bertanya tentang cita-cita.

"Melihat senyum Ellea, Bu!"

Seisi kelas tertawa. Menertawakanku. Seolah itu adalah kata lawakan paling lucu. Kecuali Bu Leni. Cepat dia menginstruksikan agar semuanya diam.

Dia menghela napas, lalu menggelengkan kepala. "Itu bukan cita-cita, Athaya. Itu harapan. Berbeda."

Masih terdengar kikik geli beberapa siswa. Berpikir bahwa aku adalah anak kelas 5 paling tolol karena tak mengerti apa itu arti cita-cita. 

"Lalu apa bedanya cita-cita dengan harapan?" Aku bertanya, tenang.

Alis Bu Leni saling bertautan mendengar pertanyaan yang kulontarkan. 

"Hampir sama. Tapi di sini Ibu bertanya tentang apa pekerjaan yang paling ingin kau lakukan. Bukan tentang perasaan hatimu."

"Kalau begitu, aku ingin jadi penulis. Karena setiap kali membaca cerita yang kubuat untuknya, Ellea bahagia!" 

Sekarang, seisi kelas terdiam. Termasuk Bu Leni.

***

Namanya Ellea. Gadis sepucat kapas yang selalu menungguku di balik jendela kamarnya. Menunggu jendelaku terbuka untuk menyapa.

"Hei!" Aku duduk di tepi jendela setelah mengaitkan tali tas di dinding kamar.

Jendela kamar kami hanya berjarak sekitar lima atau tujuh langkah pria dewasa. 

Kulihat dia menelengkan kepala. Hal yang selalu dilakukannya tiap kali mendengar suaraku. 

"Kau sudah pulang?" Senyumnya melebar. Sementara bola matanya yang berwarna sedikit aneh bergerak liar ke sana-kemari. Sampai akhirnya dapat digenggamnya sisi jendela.

"Ya." 

"Buku apa yang kau pinjam hari ini?" 

"Umm ... sebuah kisah." Aku menjawab. Sambil meraih kembali tas dan mengeluarkan buku tulis dari sana. 

"Kisah putri cantik?" Ellea mencondongkan tubuhnya ke depan. Hal yang dilakukannya tiap kali merasa tertarik.

"Ah, ya. Putri cantik." Aku menggaruk kepala. Bingung, karena tadi aku belum selesai menyalin ceritanya. 

Setiap pulang sekolah aku mampir ke sebuah toko buku bekas di ujung gang. Membaca satu buah cerita, lalu mengingatnya sepanjang jalan. Di rumah setelah makan, aku menulis kembali cerita itu ke sebuah buku tulis. Lalu menceritakannya pada Ellea. 

Aku bilang padanya bahwa buku-buku itu hasil meminjam, tapi sebenarnya aku berbohong. Toko itu tidak meminjamkan buku. Jadi yang kulakukan hanya berpura-pura ingin membeli, lalu membacanya sekilas untuk mengetahui isi cerita. Kadang pemilik toko mengusirku, tapi kadang ia hanya diam jika toko dalam keadaan ramai. Malu dengan pembeli yang lain mungkin. 

Bukankah begitu, bahwa kebanyakan orang dewasa di luar sana menyukai sikap pura-pura agar dianggap berhati dewa.

"Apa judulnya?" tanya Ellea dengan wajah penasaran. Kembali, mata biru pucat itu bergerak liar.

"Judulnya Putri Salju." Aku duduk di tepi jendela. Lalu mulai membacakan untuknya.

Ellea, gadis berusia dua tahun lebih tua dariku. Tubuhnya kurus dan pucat. Rambutnya sangat panjang sedikit bergelombang. Selalu diikat dengan pita warna merah. Sekilas tidak ada yang aneh, sampai kau menyadari pupil matanya tidak mengarah padamu saat bicara.

Ya, dia buta.

Tidak bersekolah, dan sepanjang hari terkurung di dalam rumah. Tidak pernah melihat langit, hujan, senja ataupun pelangi. Tidak tahu apa itu warna hingga aku sulit menjelaskan bagaimana indahnya dunia yang kudongengkan untuknya. Kadang dia berkata bahwa dia lupa bahagia. 

Lupa bahagia.

Bukankah itu aneh? 

"Jadi ... setelah tertidur, apa dia akan bangun lagi?" Ellea bertanya.

Aku terdiam. Lalu menggaruk kepala. Bingung.

Cuma sampai bagian itu yang kuingat, bahwa Putri Salju akhirnya terlelap setelah memakan apel beracun dari nenek sihir yang jahat.

Lalu setelah itu bagaimana? Entah. Sementara kulihat raut wajah Ellea begitu penasaran.

"Ya, dia bangun." Akhirnya aku berkata.

"Ceritakan padaku!" 

"Dia bangun, setelah ada satu kurcaci yang bercerita di samping tempat tidurnya ..."

"Lalu?"

"Lalu Putri Salju bilang terimakasih."

"Cuma itu?"

"Memangnya apalagi yang dilakukan setelah dibangunkan?"

"Ummm ..."

"Umm?"

"Mereka nggak menikah?"

"Kenapa harus menikah?" 

"Bukankah setiap dongeng anak perempuan biasanya diakhiri dengan pernikahan?"

Ah, lupa.

"Ya, lalu mereka menikah."

"Putri Salju menikah dengan kurcaci?" Dahinya berkerut. Seperti sedikit protes.

"Apa itu salah?"

"Bukankah seharusnya setiap putri menikah dengan pangeran tampan?"

"Tapi kurcaci itu yang menolongnya." Aku menjawab. 

Sesuai dengan logika ... ku.

"Oh .."

Ellea mengangguk-angguk. Lalu aku menutup buku, dan kami membahas tentang cerita Putri Salju.

Keesokan harinya, Ellea marah setelah cerita Putri Salju yang didengar dari sepupunya, berbeda dengan apa yang kuceritakan padanya.

Penulis: Patrick Kellan

1       2       3
Reactions:
SHARE:

2 Komentar untuk "Kisah Tertulis"

What a touching story man. Nice post. Keep it up man

@suyanto_official

That's right. Even I don't want to stop reading it. You must read the next parts. It will be very touching then this one.

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top