Anak Perempuan - Saifullah

Anak Perempuan

"Maaf, Bos. Gua izin nggak masuk sampe beberapa hari!" Terdengar suara bernada lelah dari seberang.

Bang Indra. Salah satu karyawan yang bekerja di toko ayah.

"Mbak Uti udah lahiran, Bang?" tebakku.

"Iya semalem. Izin sama Bos besar ya!"

"Oke, Bang. Entar disampein. Betewe ini udah di rumah apa di Rumah Sakit sekarang?" tanyaku.

"Udah di rumah," jawabnya.

"Entar pulang kerja gua sama yang laen ke sana ya?"

"Sip. Oke, gua tutup teleponnya ya, sibuk. Bini manggilin melulu!"

"Manggilin kenapa, Bang? Mau bikin adek lagi?"

"Kamvret!"

Kami tertawa.

"Oh ya. Selamat, Bang! Udah jadi bapak dua anak sekarang. Kayanya kaga bakal punya jatah rokok lagi. Hahaha!"

"Ah, sialan!" Dia tertawa. Lalu kudengar sambungan telepon sudah ditutup dari seberang.

Setelah itu aku menyampaikan permintaan izin kerja Bang Indra pada ayah.

***

"Mau ke rumah si Indra?" Ayah bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran uang di tangannya. Seperti biasa, setelah para karyawan pulang, ayah sibuk menghitung pengeluaran dan pemasukan hari ini. Kadang aku menemani, tapi lebih sering pulang lebih dulu.

"Iya, Yah," jawabku, "bareng sama yang laen juga."

Ayah mengangkat wajahnya, bersamaan dengan uluran tangan dengan amplop putih kepadaku.

"Ini buat si Indra!" ucap ayah, "bilang kalo bisa jangan terlalu lama liburnya. Repot toko kalo nggak ada dia!" pesannya.

"Oke. Pergi dulu, Yah!"

"Ya!" sahutnya sambil kembali sibuk.

Aku menyalakan motor yang terparkir di halaman toko. Lalu meluncur di jalanan menuju rumah Bang Indra yang jaraknya lumayan jauh. Anak-anak sudah berangkat dari tadi setelah toko tutup, jadi aku berangkat sendiri.

Rumah Bang indra ada di daerah perumahan sederhana. Bercat separuh putih setengah lagi biru muda, dengan ruang-ruang kecil di dalamnya. Sudah terlihat motor-motor yang cukup kukenal di halamannya. Motor para karyawan toko.

"Asalamualaikum!" Aku mengetuk pintu sekilas dan langsung masuk. Bergabung dengan beberapa orang yang sudah lebih dulu ke sana.

Bang Indra, yang sedang menggendong seorang bayi mungil dalam dekapannya menjawab salam bersamaan dengan yang lain.

"Oi, masuk Bos!" Dia mempersilahkan apa yang sudah terlambat. Karena aku sudah duduk di sampingnya mengamati wajah bayi berkulit kemerahan itu.

Istrinya terlihat hanya bisa berbaring di atas kasur busa di ruang tengah. Sekilas tersenyum padaku sebagai penyambutan. Di sampingnya, bocah laki-laki berusia sekitar 4 tahunan duduk menemani. Anak pertama Bang Indra.

"Cowok apa cewek nih?" tanyaku masih sambil mengamati si kecil dalam dekapannya.

"Cowok lagi!" Lita menyemburkan tawa. Disusul dengan tawa yang lainnya.

"Wah, alamat bikin anak lagi nih!" Yusuf mengomentari.

"Belum bisa, Suf! Bang Indra masih harus puasa sampe 40 harian!"

Pecah lagi tawa berderai. Sementara Bang Indra dan istrinya hanya ikut tertawa.

"Kenapa harus bikin lagi sih? Kan serem ngelahirin terus!" Protes Nayla yang sedari tadi diam. Sepertinya gadis itu baru saja mendengar cerita menyeramkan tentang lahiran.

"Kaga bakal berhenti sebelum dapet cewek lah. Ya nggak, Ndra?" Dedi menimpali.

"Bukannya sama aja? Nunggu komplit mah bisa sampe 5 anaknya." Lita bertanya.

Sama, seperti pertanyaan yang ada di otakku. Sering kudengar seseorang memaksakan keinginan mendapat keturunan laki-laki dan perempuan. Seolah jika hanya laki-laki atau hanya perempuan maka belum sempurna hidupnya.

"Sama ajalah dapet cowok cewek juga. Nanti juga kalo mereka menikah dapet menantu cewek juga!" Lita mengungkapkan pendapatnya.

"Atau bisa juga dapet cucu cewek!" Nayla menyahut.

"Bukan masalah itu, Ta!" ucap Bang Indra akhirnya. "Gua cuma mikirin masa tua nanti."

Kami sama-sama menatapnya. Di antara karyawan toko yang lain, Bang Indra memang yang paling dewasa.

"Coba liat di luaran sana. Lebih banyak anak perempuan yang mengurus orangtua di masa tua mereka. Bukan anak laki. Ya bantu masalah keuangan, sampai ke masalah perhatian ..."

Bang Indra mengamati wajah putra kecil dalam gendongannya. "Ini bukan tentang orang lain. Gua ambil contoh dari gua sendiri. Sebagai anak laki-laki, setelah merantau dan menikah, gua kaya nggak punya waktu pulang ke rumah. Alasan sibuk kerja, padahal memang setengahnya males pulang ke sana. Yah, paling banter gua transfer duit itu juga kalo pas ada. Untung aja bini gua kaga pernah beda-bedain orangtua sama mertua. Kalo bukan karena dia, mungkin nggak setahun sekali gua pulang ke rumah orangtua."

"Di rumah, orangtua diurus sama adek gua yang cewek. Mertua gua juga diurus sama kakaknya bini gua yang cewek. Kalo sakit, kalo butuh apa-apa kebanyakan orangtua merasa lebih nyaman ngadu ke anak cewek."

"Nah, apalagi pas sakit. Kalo anak cowok semua, masa iya kita nanti mau minta tolong mandiin sama anak menantu? Masih mending kalo keluarga kaya bisa ambil suster buat bantu ngurus, nah kalo keluarga pas-pasan kaya gua?"

Tanpa sadar, kami yang berkumpul di ruangan itu terdiam. Meresapi kata-kata Bang Indra yang memang banyak benernya.

Dia bukan bermaksud membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan. Hanya saja yang sering terjadi memang kebanyakan seperti yang dia bilang. Anak laki-laki, setelah merasa dewasa sering kurang peduli pada orangtua sendiri.

"Jadi intinya bikin lagi, Bang?" Yusuf memecah keheningan.

"Iyaaalaah ...! Tapi kaga sekarang. Masih puasa!" Lita menggoda.

Lalu kami tertawa lagi. Termasuk Mbak Uti yang hanya meringis saat mencoba bangkit berdiri.

"Mau kemana, Ma?" Bang Indra langsung siaga.

"Ke kamar kecil, Pa!" Istrinya menjawab.

Bang Indra akan memberikan bayi mungil itu pada Lita, tapi aku memintanya.

"Sini gua gendongin, Bang!"

"Entar pengen!" Goda Nayla.

"Pengen nyoba bikin juga!" Yusuf langsung semangat menyambar kata-kata Nayla.

"Halah, udah sering!" Aku menyahut cuek sambil menerima bayi mungil itu di dekapan.

Kudengar mereka tertawa, sementara aku memandangi putra Bang Indra di dekapanku.

Tersenyum saat melihat bayi kemerahan itu menggeliat sebentar. Menguarkan harum khas bayi yang menyegarkan.

***

Sekitar jam delapan malam, aku sampai di rumah. Memarkir motor di garasi, lalu masuk ke dalam.

Di depan televisi kulihat ayah, ibu dan Kanica. Anak itu sedang asyik bercerita dengan gaya yang manja, sambil sesekali tangannya memijit punggung ibu.

Sekali lagi, aku membenarkan ucapan Bang Indra. Bahwa anak perempuan sampai sedewasa apapun akan tetap sedekat itu pada orangtuanya.

Sementara anak laki-laki, sejak memasuki bangku SMA saja sudah mulai menjaga jarak. Lebih sering keluar rumah, lebih tahu tentang banyak game atau apa yang terjadi dengan teman daripada orangtua sendiri.

Jarang sekali meluangkan waktu untuk berbincang-bincang.

Apalagi setelah menikah. Sibuk bekerja, lalu merasa dituntut untuk menghidupi keluarga kecilnya. Jangankan bicara panjang lebar, mengingatkan pulang saja kadang orangtua harus banyak bersabar.

"Baru pulang dari rumah Indra?" Ibu menyapa saat melihatku melangkah ke arah mereka.

"Iya," jawabku sambil mengurungkan niat memasuki kamar. Lalu memilih duduk tak jauh dari ayah yang fokus menatap acara berita di televisi.

"Cewek apa cowok anaknya?" tanya Kanica, sementara ibu menoleh ikut menunggu jawabanku.

"Cowok!" sahutku.

Kulihat ibu tertawa. "Usaha lagi dong!"

Aku menatapnya. Lalu menyadari dari tawa itu, bahwa ibuku pun berpikir sama.

Sama seperti pemikiran Bang Indra.

Padahal dulu yang aku tahu, mendapat anak laki-laki itu adalah sebuah kebanggaan besar. Tapi semakin kesini, sepertinya pemikiran itu mulai tersingkirkan.

Beganti dengan pemikiran bahwa di masa tua nanti, anak perempuan perhatiannya lebih bisa diandalkan.

 Penulis: Patrick Kellan
Reactions:
SHARE:

4 Komentar untuk "Anak Perempuan"

Kalau dilihat realitanya benar juga ya, anak perempuan lebih dekat dengan orang tuanya dan lebih perhatian. Saya jadi sadar bahwa sebagai anak laki-laki sebaiknya kita menyediakan waktu lebih buat orang tua. Apalagi jika dikeluarga tidak ada saudara perempuannya. Kasian sama orang tua.

Benar. Bagaimanapun orang tua pasti pengen punya anak laki² dan perempuan. Tapi kalau udah diamanahkan hanya dapat anak laki², berarti anak laki² tersebut harus tau menjaga sikap agar orang tua tetap bersyukur walaupun melahirkan anak laki².

Mantap ceritanya. Tetap sampe saat ini di masyarakat kl belum punya anak cewek dan cowok belum lengkap.

Benar sekali. Ditambah lagi setiap anak punya kecendrungan dekat dengan orang tua yang berlawanan jenis. Misal, anak cowok biasanya lebih dekat dengan ibunya, sementara anak cewek cendrung lebih akrab dengan ayahnya.

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top