Cinta Itu Baper - Saifullah

Cinta Itu Baper

Baper, Cinta
"Sstt ... Tha!"

Ditha menoleh ke asal suara. Di kursi sebelahnya, Nathan menatap gadis itu lewat mata coklat terangnya. Seketika hati Ditha berdenting lembut, darahnya berdesir hingga membuat semburat kemerahan di pipinya.

"Pinjem pulpen, ya?" Nathan setengah berbisik agar suaranya tak terdengar oleh Bu Sabaryah yang tengah mengajar di depan kelas.

Ditha tersenyum dan mengangguk. Lalu dengan telapak tangan sedikit dingin karena rasa gugup, dia mengulurkan pulpen yang dipakainya ke arah Nathan.

Nathan mengulurkan tangan untuk menerima, hingga tanpa sadar jemari mereka bersentuhan.

Seketika detak jantung Ditha mulai terpacu. Kedua pipinya terasa panas karena rona yang semakin jelas. Ah, tak sanggup lagi dia membalas tatapan Nathan. Karena itu segera dia mengalihkan pandangan kembali ke depan.

Nathan mengulum senyum melihat paras pias Ditha. Masih sempat diucapkannya kata, "Makasih." Lalu kembali konsentrasi pada pelajaran kelas mereka.

Ditha memutar-mutar pena yang baru diambilnya dari kotak peralatan dengan jemarinya. Bukan berkonsentrasi pada apa yang ibu guru terangkan tapi malah sibuk mendefinisikan tentang arti cinta.

Cinta itu ... kebahagiaan. Yang membuatmu selalu ingin tersenyum bahkan hanya karena melafalkan sebuah nama. Yang membuat harimu terasa jauh lebih indah hanya karena hal-hal kecil yang dilakukannya. Cinta itu ...

Ditha menoleh ke arah Nathan.

... Dia!

.

Bel pulang berbunyi. Suasana sekolah seketika ramai oleh anak-anak yang menghambur keluar.

Masih sempat terlihat oleh Ditha punggung Nathan yang menjauh pergi dengan teman-temannya. Mereka tertawa dan bercanda. Sementara dari sini, Ditha tersenyum melihat tingkah mereka.

"Dhita!" Lala berseru dari kelas luar yang berbeda. Sahabatnya itu melambaikan tangan ke arah Ditha.

Mereka berdua berjalan bersisian menuju pintu gerbang sekolah. Seperti biasanya, dua remaja itu mampir ke sebuah mini market yang terletak di ujung gang untuk membeli makanan ringan atau minuman segar.

Setelah beberapa saat menyusuri lorong demi lorong jajaran makanan ringan, akhirnya mereka berdua bertemu di antrian depan kasir. Lala membawa sebotol soda dingin dan sebungkus roti coklat. Sementara Ditha ...

"Tha, lo beli pulpen banyak amat?" tanya Lala keheranan melihat satu pak pulpen di tangan sahabatnya.

Ditha nyengir. "Iya," sahutnya.

"Kayanya beberapa hari kemaren lo juga beli pulpen satu pak. Pada kemana tuh? Ilang?"

"Enggak kok," jawaban Ditha mulai pelan. Takut rona wajahnya makin jelas terlihat. Tapi bukan sahabat namanya kalau ada rasa yang bisa dirahasiakan.

Terbukti, melihat rona merah di pipi Ditha, bola matanya seketika membesar.

"Oh ... jangan-jangan ini semua karena Nathan?" Mata gadis berwajah imut itu membelalak setelah menyadari ucapannya sendiri, "o em ji! Lo suka sama Nathan ya, Tha?" Pekiknya tanpa sadar.

"Ih, Lala. Jangan berisik!" Ditha merasa malu.

"Serius, Tha, lo suka sama dia ya!" Lala malah semakin menggoda.

Sementara beberapa orang yang ada di antrian kasir sekilas menoleh ke arah mereka berdua. Ditha semakin merasa risih, sementara Lala semakin menggoda.

***

Ditha tidak ingat kapan awal mula rasa itu mulai tercipta. Mungkin sudah sejak lama, mengingat siapa seorang Nathan di mata mereka.

Nathan itu idaman banyak cewek-cewek di sekolah mereka. Bukan cuma karena wajah, tapi juga karena sikapnya yang cuek hingga membuat banyak dari mereka merasa penasaran akan rasa hati di dalamnya.

Termasuk Ditha. Berawal dari beberapa bulan yang lalu.

Saat itu hujan lebat turun sepulang sekolah. Banyak anak-anak terjebak di teras kelas untuk menunggu hujan reda. Tapi untunglah saat itu Ditha membawa payung.

Dengan santai, Ditha mengembangkan payung ungu itu, lalu bersiap menerobos derai hujan. Tapi tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh Nathan yang melompat dari teras dan ikut berlindung di bawah payungnya.

Ditha sedikit kaget. Menoleh ke arah Nathan yang sesikit menunduk karena tinggi mereka sedikit tak seimbang.

"Numpang yah, sampe halte bus!" Nathan tersenyum.

Ditha mengangguk. Lalu mereka berjalan beriringan menuju keluar pintu gerbang sekolah. Saat itu, mereka tak banyak bicara. Tapi beberapa kali tangan Nathan yang ikut membantu menggenggam gagang payung menyentuh jemarinya.

Di bawah rinai hujan dan bias udara yang basah, gadis itu mulai merasa ada sesuatu yang menggetarkan hatinya. Apalagi karena jarak yang begitu dekat, kadang dia merasakan hembusan napas hangat Nathan di pipinya.

Perlahan, detak-detak itu pun mulai menyenandungkan sebuah rasa.

Lalu saat sampai di halte bus dan Nathan melompat keluar dari payungnya, tanpa sadar Ditha melambaikan tangan.

Setelah itu Ditha mulai sering memperhatikan Nathan. Sesekali menyapa, lalu membantunya. Meminjamkan pulpen, meminjamkan buku, kadang memberi lembar kertas kosong saat Nathan butuh itu.

Ditha merasa senang saat Nathan mulai mendekat untuk meminta sesuatu padanya. Dia menulis serapi dan seindah yang ia bisa agar Nathan mudah membaca tulisannya. Dia membawa buku kosong agar saat Nathan meminta lembaran kertas, Ditha bisa memberikannya. Dan Ditha membawa banyak pulpen agar Nathan tidak merasa kecewa jika meminjam dan tidak ada.

***

Pagi ini Ditha melihat mama sedang menyiapkan kotak makannya. Ada nasi dan nuget beraneka bentuk yang sengaja mamanya tata sedemikian rupa.

Tiba-tiba saja, terbersit sebuah ide di benak Ditha. Hal yang tidak pernah terpikir olehnya sebelum mengenal Nathan sang pujaan.

"Ma, hari ini ... aku bawa bekalnya dua yah?" ucapnya pada mama.

Mama menoleh, matanya sedikit menyipit.

"Dua? Buat siapa?" tanya mama keheranan.

Ditha tersenyum. Bukan karena pertanyaan sang mama, tapi karena tengah membayangkan Nathan yang kegirangan mendapat sekotak bekal darinya.

"Ciee, kayanya memang ada yang lagi jatuh cinta nih!" Tiba-tiba Debby, adiknya masuk ke dapur.

"Oh ya?" Mama menoleh padanya sambil menahan senyum.

"Ah, enggak kok, Ma!" Ditha mencoba mengelak. Tapi dia malah jadi tertawa. Tertawa setengah tersipu karena malu.

"Iya, Ma! Aku liat Kak Ditha sering senyum-senyum sendiri di meja belajar!" Debby mengadu.

"Siapa namanya?" Mama bertanya setengah menggoda.

"Namanya Nathan, Ma!" Sahut Debby makin bersemangat.

Ditha melotot agar anak itu diam. Tapi percuma,

"Aku baca nama Nathan ada di notebook Kak Ditha. Hurufnya diukir-ukir trus dikasih gambar-gambar hati gitu!" Debby tertawa semakin keras saat melihat wajah kakaknya sudah semerah tomat.

Mama tertawa sambil menggelengkan kepala.

"Jadi kotak bekal untuk Nathan dihias juga nggak?" tanya mama mengakhiri godaannya.

Ditha mengulum senyum, "Iya ..."

Lalu dilihatnya sang mama menghias kotak bekal untuk Nathan dengan ukiran berbentuk hati di sana.

***

Ditha tahu hari ini Nathan mengikuti latihan basket. Seringkali dilihatnya cowok itu makan-makanan kurang sehat di kantin sekolah mereka. Itu tidak bagus untuk Nathan. Karena itu tadi Ditha berpikir untuk membawakannya bekal makanan.

Bel pulang berbunyi. Anak-anak segera meninggalkan kelas masing-masing.

Ditha melihat Nathan tengah bersiap keluar kelas dengan teman-temannya. Sementara Ditha ... berdiri ragu di sisi meja sambil menggenggam kotak bekal di tangannya. Tanpa sadar jemarinya gemetaran. Sempat merasa ragu, tapi Ditha tahu dia harus segera memberikannya pada Nathan saat ini.

Demi melihat senyum itu ...

Jantung Ditha berdetak menyentak, dan semakin tergagap saat melihat Nathan melangkah mendekat untuk lewat.

Disodorkannya kotak bekal itu ke arah Nathan. Tapi ...

Brak!

Kotak bekal itu jatuh karena tersenggol tangan Nathan. Isinya yang semula berbentuk hati kini terserak. Tak berbentuk lagi.

Ditha tertegun, begitupun Nathan. Cowok itu berhenti melangkah dan memandangi kotak nasi yang isinya bertaburan di lantai. Agak meringis.

"Kamu nggak papa, Tha?" tanyanya.

Ditha yang sudah berjongkok untuk memberesi kotak bekalnya mendongak. Lalu dilihatnya senyum Nathan kepadanya.

"Maaf ya, aku nggak sengaja!" ucap Nathan datar.

Ditha membalas senyumnya. "Iya, nggak papa ..." jawabnya pelan.

Semua rasa kecewa itu lenyap seketika saat melihat senyum Nathan untuknya. Toh dia membawakan makanan untuk melihat senyum itu. Walaupun pada akhirnya hanya menjadi sampah yang terbuang.

Tapi setidaknya Ditha sudah melihat senyum itu.

"Nath! Lama amat sih lo? Udah kaya cewek aja!" Seseorang berseru di pintu kelas.

"Yo'i!" Seru Nathan sambil berlari pergi.

Meninggalkan Ditha yang sedang memunguti makanan yang berserakan. Sambil sesekali mengusap sudut matanya.

Nggak papa, dia kan nggak sengaja. Lagian dia udah minta maaf dan tersenyum tadi ... jadi kenapa menangis ...?

Ditha menggigit bibirnya.

Lalu tenggelam wajah itu di antara kedua lengan. Terisak perlahan karena logikanya menyadari ada sesuatu yang salah, tapi perasaannya tetap keras bertahan.

.

Nathan berlari menghampiri team basketnya yang sudah berkumpul di lapangan. Bersiap melakukan pemanasan sambil mengobrol santai.

"Gua liat tadi si Ditha mau ngasih kotak makan ke lo!" Julian tersenyum menggoda Nathan.

Sementara David dan Ale tak lagi bisa menahan tawa.

"Dia kan memang udah lama suka sama Nathan!"

"Iya, tinggal nunggu ditembak."

"Enak kalo lo punya cewek kaya dia, Nath! Pinter, baik, kalem ..."

"Mending lo jadian dah ama dia!"

"Kan memang Nathan suka ama Ditha? Liat aja tuh hampir tiap hari dia pinjem pulpen dan nyontek PR ke dia!"

Mereka terus menggoda Nathan yang tetap berekspresi datar. Sampai akhirnya dia bicara.

"Dasar aja dia cewek baperan! Dideketin dikit langsung ke ge er an."

"Tapi jangan terlalu tega juga kali, Nath! Gua liat tadi lo sengaja jatohin kotak bekal yang mau dikasihin Ditha!"

"Sengaja! Biar logikanya jalan!"

"Hahaha!"

Lalu mereka tertawa. Menertawakan perasaan Ditha yang terlalu lemah sampai-sampai tak bisa membedakan antara mana sikap suka dan mana sikap yang hanya sekedar memanfaatkan.

Penulis: Patrick Kellan
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top