Mereka - Saifullah

Mereka

Mereka, Orang Tua
"Mau ke mana, Bang?" Terdengar teguran papa saat aku melewati ruang tamu, dimana ia duduk sambil menggenggam bentangan koran di tangannya. Sementara mama duduk di kursi tak jauh darinya.

"Keluar sebentar, Pa!" Aku menjawab dengan suara yang entah terdengar entah tidak.

Lalu segera melesat bersama motor hitamku. Membelah jalanan ramai kota Bandar Lampung. Udara basah seakan menembus jaket tebal yang kupakai. Sementara kaca helm terlihat mengembun karena kabut yang turun. Membuatku memilih membuka kaca agar pandangan tak bias saat berpapasan dengan kendaraan yang melaju berlawanan arah.

Dingin.

Menyusuri gang demi gang hingga akhirnya tiba di sebuah rumah yang lumayan besar.

Sudah berkumpul beberapa teman di sana. Melihatku datang, ada yang menyapa tapi ada juga yang hanya menoleh. Lalu kembali meneruskan cerita.

Mereka, teman-teman kerja yang sudah cukup akrab. Seharian bertemu di tempat kerja, kadang sering juga membuat acara kumpul seperti malam ini.

Membicarakan tentang apa saja. Tentang pekerjaan, tentang game, tentang wanita, bahkan sampai mendengarkan mereka berbagi tentang masalah rumah tangga.

Penuh tawa.

Setelah malam menjelang larut. Aku pulang. Rumah terlihat begitu sunyi. Mungkin orang rumah sudah tertidur lelap.

Suara klakson motor membangunkan mama. Dibukanya pintu dengan wajah sedikit kusut karena harus terjaga dari tidurnya.

"Baru pulang jam segini, Bang?" Mama bertanya dengan mata sedikit menyipit, masih mengantuk mungkin.

"Ya," jawabku sambil menaruh helm di atas rak.

"Mau makan lagi?" tanyanya.

"Nggak, udah kenyang di sana tadi, Ma," tolakku.

Lalu tanpa menunggunya kembali ke kamar, aku masuk kamar lebih dulu. Merebahkan diri, lalu tertidur.

Tadinya, keseharianku bersama mereka seperti ini, hanya berjalan seadanya. Bangun, bekerja, pulang, tidur. Bangun, bekerja, pulang, main, lalu tidur.

Sesekali bicara.

Sampai akhirnya, aku menyadari sesuatu setelah dibangunkan malam itu.

"Bang! Bang!"

Ketukan keras di pintu kamar menandakan betapa panik mama saat itu.

Setengah berlari aku membuka pintu. Semakin terkejut saat menyadari wajah mama sudah pias dengan genangan airmata. Ada apa?

"Papa, Bang!" Mama berkata gugup, "ayo bawa papa ke Rumah Sakit!"

Aku keluar dan mendapati papa di sana. Terduduk di atas sofa dengan wajah mendongak ke atas. Sementara kaos putihnya telah berubah menjadi warna merah. Terlihat adik perempuanku sibuk membantu menahan aliran darah yang mengalir deras dari hidung papa, tangannya gemetar hebat.

Deg!

"Kenapa papa, Ma?" Aku bertanya sambil berjalan mendekat. Kupikir papa jatuh pingsan karena ia hanya diam, tapi ternyata ia masih terjaga. Hanya tidak mampu bicara karena darah yang keluar dari hidungnya begitu deras mengalir.

Aku membantu papa berdiri. Memapah tubuhnya sambil meneriaki adik perempuanku untuk mencari kunci mobil.

Dalam keadaan panik kami semua mengambil apa saja yang dirasa perlu, lalu membawa papa menuju ke salah satu Rumah Sakit di kotaku.

Meluncur di jalanan basah setelah seharian tersiram hujan, suasana begitu dingin. Apalagi waktu menunjukkan sudah pukul 01.30 pagi.

Di sepanjang jalan, kedua lenganku gemetar. Kadang bias cahaya lampu kendaraan yang berlawanan arah begitu mengganggu. Karena silaunya membuat kedua mata yang berkaca-kaca semakin tak bisa melihat dengan jelas.

Rumah Sakit yang hanya berjarak sekitar 8 km terasa sangat jauh. Apalagi karena telingaku tak henti mendengar mama mengucap doa berkali-kali.

Tahu bagaimana rasanya? Mencekam. Takut akan diambil sesuatu yang aku belum siap untuk kehilangan.

Papa masuk ke ruang gawat darurat. Dokter dan beberapa perawat segera menangani.

Papa terbaring di atas tempat tidur berwarna hitam. Dokter segera memberi suntikan, lalu setelahnya diberi kapas obat di dalam hidung, setelah itu ditutup dengan kain kasa.

"Ini pecah pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi," ucap sang dokter yang cekatan mempersiapkan peralatan.

Deg!

Pecah pembuluh darah? Bukankah itu bisa berakibat fatal?

Setelah beberapa saat, dokter menyuruh papa membuka mulut. Ternyata rongga mulutnya sudah dipenuhi darah. Kembali, darah mengalir dari sana.

Kau tahu selemas apa aku? Melihat mama yang terduduk menangis dengan tubuh gemetar dan berpelukan dengan adik perempuanku. Sementara aku harus berdiri mengawasi yang tengah dilakukan dokter, bersiap memberi jawaban setiap kali pria berseragam itu bertanya tentang riwayat kesehatan papa.

Dalam hati aku mulai menggumamkan doa.

Doa paling menyakitkan yang pernah aku panjatkan.

"Ya Allah ... papa adalah milik-Mu, tapi jika memang Kau izinkan ... aku belum siap menitipkannya sekarang ... " Bersamaan dengan airmata yang menitik dari sudut mata. Dengan tangan meremas telapak di dalam saku celana. Sementara kedua lutut gemetar tak henti-hentinya.

"Jangan sekarang, ya Allah ... jangan sekarang ... jangan sekarang ..." doaku berulang-ulang.

Akhirnya dokter memasukan obat ke tubuh papa melalui selang infus, karena ia bilang sudah tidak mempan jika menggunakan suntikan.

Setelah beberapa saat, akhirnya darah berhenti keluar. Syukurlah, papa mendapat pertolongan di saat yang tepat.

Dokter menjelaskan, beruntung pembuluh darah yang pecah ada di hidung. Kalau yang pecah pembuluh darah di otak, bisa mengalami stroke. Kalau yang pecah pembuluh darah di jantung bisa langsung meninggal (yang seringkali disebut dengan masuk angin duduk bagi orang tua jaman dulu). Sementara kalau yang pecah pembuluh darah di syaraf mata bisa mengalami kebutaan.

Dalam kasus ini, pecah pembuluh darah di hidung adalah yang paling ringan.

Malam menjelang pagi, kami tak henti mengucapkan syukur untuk papa.

Di titik ini, aku menyadari.

Mereka, dua orang paling berharga, yang kehadirannya kadang terlihat jelas tapi seringkali kau lupa. Nanti, akan kau sadari bahkan sujud di sepertiga malammu takkan mampu menahan saat Tuhan memanggil mereka untuk kembali ke pangkuan.

Puaskan waktumu, sebelum kau kehilangan.

***

"Mau ke mana, Bang?" Papa bertanya.

Aku yang tadinya akan pergi ke rumah salah satu teman, berhenti melangkah. Duduk di sebelah papa, ikut melihat acara berita di televisi.

"Nggak ke mana-mana, Pa," jawabku, "di channel yang satunya ada bola."

Papa mengganti channel. Sesekali kami mengomentari permainan bola di tv.

"Bang, minggu depan Papa mau ke seberang." Tiba-tiba papa berucap. Seberang adalah sebutan Papa untuk tempat kelahirannya. Tempat dimana saudara dan para kerabatnya tinggal.

"Minggu depan? Memang di sana ada acara, Pa?"

"Enggak. Cuma udah bertahun-tahun Papa nggak ketemu sama saudara-saudara di sana. Kangen. Takutnya ... kalau nanti-nanti nggak ada waktu."

Aku terdiam. Aku tahu apa yang papa pikirkan, dan itu ... menyedihkan.

"Berapa lama, Pa?"

"Mungkin beberapa hari. Lepas kangen."

Setelah itu kami terlibat dalam obrolan ringan. Obrolan yang kadang terasa membosankan. Tapi kita tahu, hal-hal kecil yang tadinya membosankan kelak akan jadi kenangan yang terkuat dalam ingatan.

Aku tahu mereka tidak bisa selamanya mendampingi, tapi setidaknya aku bisa berbuat terbaik agar nanti tak ada kelalaian yang harus disesali.

Penulis: Patrick Kellan
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top