Sandra 3 - Saifullah

Sandra 3

Di kegelapan malam, hanya diterangi pias pucat sang bulan yang tergantung di ketinggian sana, terlihat seorang wanita muda jatuh tersungkur di hadapan seorang pria bersenjata.

Sedetik, dua detik, hening masih menyelimuti setelah terdengar letusan pistol. Hingga akhirnya pria itu menarik moncong senjata yang tadi teracung lurus, lalu menyelipkan di sarungnya.

"Bangun!" Perintahnya.

Sandra, yang menjatuhkan diri untuk melindungi nyawa bayinya perlahan membuka mata. Raven bergerak sesak di dekapannya. Mengerang sakit karena Sandra tanpa sengaja menekan tubuhnya ke tanah berlapis dedaunan kering.

Mereka berdua baik-baik saja!

Antara percaya dan tidak, Sandra mendongak dengan pandangan bertanya. Kenapa perampok tadi sama sekali tidak melukai mereka? Apa pelurunya meleset?

Di keremangan malam, masih tertangkap oleh Sandra tatapan aneh pria itu ke arahnya.

Ada apa?

"Berdiri!" Perintahnya dengan suara berat.

Dengan kaki masih gemetar, Sandra bangkit berdiri. Dipandangi oleh mata tajam itu hingga beberapa saat, lalu akhirnya pria itu memberi isyarat agar mengikuti langkahnya.

Kembali ke minibus yang terparkir di tepi jalan.

"Kenapa dibawa lagi?" Salah satu dari mereka bertanya keheranan.

"Jangan bilang ini karena kau tidak tega membunuh wanita itu!"

"Hey, ayolah! Dia sudah bisa memberikan sketsa wajah kita dengan jelas sekarang!"

Terdengar protes ketiganya. Tapi pria itu malah membuka pintu untuk Sandra. Sedikit mendorong wanita muda itu hingga hampir terjerembab kalau saja lengannya tidak menahan.

"Dia lebih berguna dalam keadaan hidup," jawab pria itu datar.

Lebih berguna dalam keadaan hidup? Apa maksudnya? Apa itu artinya sekarang dia tengah diculik untuk ditukar dengan uang tebusan?

Sandra memejamkan mata. Pasrah. Karena menyadari bagaimana nanti akhir dari semua ini.

Dia pasti berakhir tragis dalam sebuah tragedi.

***

Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama. Hingga menjelang pagi. Sandra tidak tahu di kota mana sekarang ia berada. Semua terllihat begitu asing. Ya, tentu saja asing, karena dia berada di sebuah daerah yang lebih mirip hutan daripada pemukiman.

Hanya ada pepohonan lebat di sepanjang jalan kecil berbatu yang mereka lewati. Sesekali terlihat anjing liar, atau bahkan rombongan babi hutan besar melintasi jalan.

Beberapa kali terlihat rumah-rumah sederhana berdinding geribik atau papan. Hanya saja dalam jarak yang berjauhan.

Benar-benar daerah yang aman sebagai tempat persembunyian.

Mobil berbelok ke halaman sebuah rumah besar berlantai dua. Satu-satunya rumah paling mewah yang ada di sini. Dikelilingi pagar setinggi 2 meter dan pintu gerbang yang kokoh dengan halaman yang cukup luas dan terawat rapi.

Pintu gerbang langsung ditutup oleh seorang lelaki tua yang tadi membukakan jalan untuk mereka. Tergesa, laki-laki berambut hampir seluruhnya putih itu berdiri di dekat minibus yang telah berhenti. Menunggu perintah selanjutnya.

Dua orang di depan segera melangkah keluar. Berjalan menuju teras rumah dan menghilang di balik pintu. Sementara Sandra ...

"Turun!" Perintah pria di sampingnya.

Sandra bergeming.

"Aku bilang turun!"

"Apa yang akan kau lakukan pada kami?"

"Tawanan tidak perlu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Anggap saja itu nasib." Dia menyeringai. Memperlihatkan barisan giginya yang berjajar rapi. Sungguh kontras dengan wajah yang hampir seluruhnya tertutup bulu.

"Semoga Tuhan memberimu karma!" Dengus Sandra.

"Oh ya? Malah kupikir akulah sang Karma," sahutnya.

Sandra menyipit.

"Karma suamimu."

Sandra semakin tak mengerti. Karma suaminya? Apa ini berarti semua yang terjadi padanya bukan hanya sekadar perampokan? Tapi ... dendam? Entah dendam tentang apa, tapi yang jelas, pengusaha sukses seperti suaminya memang bukan tak mungkin punya banyak musuh. Dari lawan bisnis, ataupun orang yang iri akan kedudukannya.

Sandra merasa semakin tak tertolong. Apa yang lebih berbahaya dari dendam seorang penjahat?

"Turun!" Dia mulai mengarahkan moncong senjata tepat ke wajah Sandra.

Lalu wajah itu mendekat, menguarkan wangi mint dari dengusan napasnya. Sedikit gugup, Sandra menarik wajah. Lalu menyadari bahwa laki-laki itu hanya berniat membukakan pintu mobil untuknya.

.

Sandra dipaksa masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup luas dan rapi. Tapi ..,

"Jangan di kamarku!" Si wajah tirus langsung memprotes.

Pria itu mendelik padanya. Tapi akhirnya menyambar lengan Sandra dan membawa wanita itu keluar.

Didorongnya ke kamar yang lain. Tapi lagi-lagi ada yang keberatan kamarnya dipakai.

"Aku kurang nyaman sekamar dengan wanita ... dan bayi yang berisik!" Si hidung bengkok menolak mentah-mentah.

"Apa dia harus tidur di kamarku?!" Pria itu berseru kesal.

Tapi kedua temannya malah mengempaskan diri di sofa besar dan menyalakan televisi.

"Itu resikonya, kami sudah bilang dibuang saja!"

Pria itu mendengus sebal.

Setelah berdiam untuk beberapa saat, akhirnya dia menarik lengan Sandra. Dan mendorong wanita itu ke sebuah kamar.

Lebih rapi, dan juga lebih lengkap dari kamar-kamar lain.

Baru saja dia akan menutup pintu saat terdengar Raven mulai menangis. Keras.

"Hei! Suruh dia diam!" Serunya kesal.

Sandra balas menatapnya.

"Apa?!"

"Dia ... lapar."

"Oohh, Shit!!"
2       3       4

Penulis: Patrick Kellan
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top