Lelaki Penghibur - Saifullah

Lelaki Penghibur

"Ndri, sini ya!" Suaranya setengah memerintah.

"Ngapain?" tanyaku masih sambil menyuapkan makanan ke mulut. Agak mengganggu memang, makan sambil menerima telepon seperti ini.

Tapi ini Sarah yang menelepon. Gadis yang tinggal di sebelah rumahku. Usianya lebih tua 3 tahun, tapi itu bukanlah masalah bagi kami. Maksudku, bagi hubungan tanpa ikatan yang kami jalani.

"Aku butuh bahu, mau nangis." Sekarang suaranya sedikit serak.

"Hmm, ya udah. Aku ke sana sekarang," aku memutuskan.

Suara sambungan terputus. Aku menyendok makanan sekali lagi, lalu meneguk air putih. Kemudian melesat pergi ke rumah Sarah setelah sebelumnya menyambar gitar dari kamar.

Sarah ada di kamar. Seperti biasa aku sudah tak canggung lagi. Memasuki kamar bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu. Di kamar ini seringkali Sarah menumpahkan segala keluh kesah padaku. Di kamar ini kami beberapa kali berciuman. Hanya saja, Sarah memang tak mau kami menjalin ikatan. Dengan alasan yang hanya sebagian orang bisa memahami.

Ini bukan tentang usia yang berbeda, bukan tentang aku masih kuliah sementara dia sudah bekerja, bukan tentang dia pernah menikah dan aku masih lajang, juga bukan tentang orangtua yang melarang.

Ini murni keinginan kami untuk menjaga hubungan ini. Karena kami sama-sama tahu, kadang sebuah ikatan malah akan membuat hubungan lebih cepat berakhir. Saling menyukai, menyatakan cinta, sering cemburu dan dicemburui, bosan, lalu rasa itu menghilang.

Jika beruntung, kita akan mendapat sahabat baru bergelar mantan. Tapi seringkali, mereka yang dianggap sebagai mantan tak kan lagi bersikap sedekat dulu. Mungkin ada, tapi ... kita tahu bagaimana rasanya.

Itulah yang coba digambarkan Sarah padaku. Kami saling menyayangi, kami saling bantu, kami saling membutuhkan, tapi kami adalah teman.

Dan kadang, aku merasa dia menganggapku hanya sebagai lelaki penghibur.

"Kenapa lagi?" Aku bertanya saat melihatnya diam terpaku di dekat jendela kamar. Matanya sembab dengan hidung memerah. Habis menangis.

"Sini!" Dia melambaikan tangan, menyuruhku mendekat. Lalu saat aku sudah duduk di tepi jendela. Dia memelukku. Membenamkan kepala di dadaku. Menumpahkan isak tangisnya di situ.

Aku tidak pernah bertanya dia kenapa. Aku hanya meminjamkan bahu. Kadang mengusap kepalanya, kadang hanya menunggu tangisnya reda sambil menyalakan sebatang rokok.

Kemudian setelah tangisnya reda, aku bermain gitar untuknya. Menyanyikan beberapa buah lagu sampai kulihat tawa di wajahnya.

Dia selalu bilang dia menangis karena bertengkar dengan teman sekantor, dimarahi bos, atau hubungan cinta yang kandas.

Kadang kisah cintanya menyakitiku, kadang tidak. Tergantung seperti apa binar wajahnya saat bercerita. Hanya saja, aku jarang sekali melihat wajahnya berbinar saat menceritakan para kekasihnya. Lebih sering terlihat murung. Entah, aku merasa ada yang salah.

Setelah tangis yang kemarin itu, wajah Sarah semakin memucat dari hari ke hari. Beberapa kali dia tidak pergi ke kantor. Aku sempat khawatir, tapi dia bilang tidak apa-apa.

"Ndri, ke sini!" Masih setengah perintah nada suaranya.

Aku yang sedang membaca buku tidak menyahut. Langsung menutup telepon dan pergi ke rumahnya.

Di kamar, dia duduk di dekat jendela. Dengan wajah pucat dan terlihat lemah.

"Kenapa? Kamu sakit?" Aku menyentuh keningnya.

Biasa saja, tidak demam. Hanya pandangan matanya, benar-benar sayu.

"Nggak, cuma pengen ada kamu di sini," senyum Sarah terlihat kuyu. Kadang, aku merasa dia memang menyembunyikan sesuatu.

Tapi siapalah aku bertanya, aku cuma lelaki penghiburnya. Sambil memetik gitar aku bernyanyi. Membiarkannya menatap wajahku lama. Mungkin sedang menikmati laguku, atau sedang memikirkan masalahnya. Aku tidak tahu. Yang kutahu saat senyumnya mulai terkembang, baru aku berhenti dan melangkah pulang.

Keadaan Sarah yang semakin lemah dari hari ke hari membuatku tak tahan juga untuk bertanya. Hingga pertanyaanku kali ini terdengar sedikit memaksa. Bagaimana tidak? Aku melihatnya batuk dan saat dia membuka telapak tangan, ada darah di sana.

"Kamu sakit apa?" Aku menatapnya khawatir dan setengah menahan kemarahan.

"Enggak, Ndri. Cuma sakit biasa ..." lemah ucapannya.

"Sakit biasa nggak kaya gini! Kamu sakit apa?" Ulangku dengan nada meninggi.

Setetes airmata jatuh bergulir di pipi tirus itu, "Leukimia ..."

Malam itu, aku berjalan pulang dengan langkah gontai dan mata berkaca-kaca. Setelah menyanyikan beberapa buah lagu dengan gitar. Tanpa semangat, tanpa bicara.

Ternyata dia sedang sakit. Leukimia. Itu alasannya kenapa dia tidak mau menjalin ikatan denganku. Dia tidak ingin aku merasa terbebani, lalu merasa kehilangan saat dia pergi. Nyatanya dia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa-siapa.

Tapi siapa yang mampu mengendalikan hati? Tanpa sadar aku memang mencintainya setengah mati. Itu sebabnya aku membiarkannya bebas tanpa mau terikat karena kupikir itu kebahagiaannya.

Kami saling mencintai.

***

Hari ini aku datang lagi setelah menerima telepon darinya. Kali ini suaranya tidak bernada perintah, tapi meminta.

Aku datang, mengetuk pintu dan melangkah masuk. Kulihat dia duduk di dekat jendela. Menatap keluar dengan mata sayu dan wajah sepucat kapas.

Hatiku terjatuh, menyadari sebuah firasat.

"Mana gitarnya?" Dia bertanya.

"Haha, lupa!" Aku menepuk dahi, akan berbalik kembali ke rumah, tapi dia mencegah.

"Nggak usah pake gitarlah, aku udah ngantuk," dia tersenyum tipis.

Aku duduk di tepi jendela kamarnya. Sementara dia menatapku lekat dari kursi. Matanya begitu sayu, seperti sudah benar-benar mengantuk.

Lalu aku mulai bernyanyi. Bernyanyi untuknya. Tanpa gitar, tanpa nada yang sempurna. Karena laguku, bercampur derai airmata.

Kulihat matanya semakin lelah dan redup. Seperti akan tertutup hanya saja berusaha ditahan sampai laguku selesai.

Tapi aku tidak mau itu selesai.

Kuulang lagi, kuulang lagi.

Sampai akhirnya mata itu tertutup. Kepalanya terkulai, dan tangannya terjatuh menyentuh lantai.

Aku menyanyi, masih terus menyanyi. Bukan untuk menghibur kekasih yang tak pernah menyatakan perasaan di dalam hati, kali ini untuk menghibur diriku sendiri.

Penulis: Patrick Kellan
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top