Berhentilah Menulis - Saifullah

Berhentilah Menulis

Berkali-kali ku baca, sama sekali tak ada bagusnya tulisan itu. Dibilang lucu garingnya minta ampun, dibilang sedih sumbangnya tak terperih, dibilang motivasi sekata pun tak berisi. Pesan moral dangkal, sedikitpun tak berasa. Itu kalau dari softwarenya.

Hardwarenya lebih parah lagi. Typonya keterlaluan, kalimatnya berantakan, alurnya merepotkan, diksinya memuakan, idenya membosankan. Menulis sesuka jarinya, sesendokpun tak berpikir.

Tapi, Uuuanehnya..., likenya buanyak, komennya buanjir, se-kota ngueshare.

Kadang aku berpikir, ini penulisnya yang sinting apa pembacanya yang gila, sih? Namun yang pasti, keduanya telah menghianati dunia kepenulisan dengan meremeh-temehkan etika dan estetika sebuah karya tulis. Kusebut mereka tuna waras.

Dibandingkan dengan tulisanku, paling tidak menurut orang-orang terdekatku: lucu? Sangat! kata pacarku yang tuna humoris. Sedih? paling! ucap nenekku yang tuna aksara. Motivasi? penuh! komentar ibuku yang awam soal motivasi. Pesan moral? kental! pendapat ayahku yang tak tahu definisi moral. Berasa sampai ke ubun-ubun! serumah sepakat.

Typonya sekata, kalimatnya puitis terkadang humoris, alurnya harmonis, diksinya manis sering dramatis, idenya fantastis, paling tidak menurutku dan adikku yang belum pintar membaca. Sekali asam lambung untuk satu kalimat, butuh seminggu untuk sampai baris ketujuh.

Huuuerannya... likenya minim, komennya nihil, seklik pun tak ada yang ngeshare.

Apa mungkin saking bagusnya tulisanku, membacanya mereka jadi terpaku seperti orang kesambet, tak dapat berkata, tak dapat bergerak hingga memustahilkan untuk berkomentar atau sekedar menekan tombol like?

Tak habis pikir, aku pun bertanya sama emak Googgle.

“Emak, gimana si caranya biar tulisan di FB banyak yang respons, atau sekalian viral gitu?”

“Ntong...ntong, masa gitu aja lu ngga tau?” ucap emak Googgle dengan angkuhnya, seakan di dunia ini dialah yang paling tahu segala hal, dan aku adalah orang paling bodoh yang pernah ia temui.

“Ikhtiar, berdoa dan tawakal” lanjut emak Googgle dengan alimnya.

“Ah, emak bisa aja. Serius nih” balasku. Dia terkekeh.

“Tegang amat sih lo, ntong... si amat aja nggak tegang. Tenang, ntong!” balasnya santai, mengesankan bahwa masalah yang ku keluhkan ini kecil, dan dengan mudahnya sebagai dukun dunia maya yang kondang dia dapat mengatasinya.

“Sekarang, lo catet baik-baik pesan emak,” lagaknya pede amat, bahwa aku tak salah bertanya padanya. “Jika ingin menerima sebanyak-banyaknya, maka memberilah sebanyak-banyaknya.” emak Googgle sok bijak. Aku menatapnya serius. “Teori purba, tapi apa salahnya dicoba?” pikirku.

“Sederhananya begini, ntong...” emak menatapku seakan aku orang dungu yang tak paham kata-katanya, “kalau ingin tulisan lo di epbi rame..., maka perbanyaklah teman, sering ngelike, selalu berkomentar, dan biasakan ngeshare tulisan orang,” ucapnya dengan ekspresi seperti seorang dokter yang telah berhasil mengobati ribuan pasien dengan penyakit yang sama. Sangat yakin!

“Satu lagi...,” ia berbisik padaku, matanya awas, seperti mau membocorkan satu rahasia penting.

“Buatlah tulisan yang bermanfaat,” sambung emak Googgle, sok tahu. Ia kira tulisanku selama ini tak bermanfaat apa?

“Oke, emak. Aku pamit dulu,” ucapku sambil bergegas pergi ke beranda fb, meninggalkan emak Googgle yang sok pintar itu. Samar-samar kudengar suaranya di seberang, “woi... ntong, mana terima kasihnya? Dasar lo ya... anak nggak tau adat” aku senyum tak peduli.
........................

Sesuai pesan emek Googgle, langkah pertama yang kulakukan adalah menambahkan teman sebanyak-banyaknya. Dalam sehari aku sudah meng-add seratus akun yang sama sekali tak kukenal, intinya banyak teman dulu. Dari seratus akun yang ku add, tak lebih dari sepuluh orang yang mengonfir.

Namun ada beberapa orang yang akun fbnya aneh menurutku, sok selebriti dan sok penting, dengan angkuhnya menampilkan satu pertanyaan yang sangat tidak bersahabat “Apakah anda mengenal orang ini?” loh, bukannya justru tak kenal kita dianjurkan untuk berteman? Tak tahu kah mereka soal ta’aruf?

Langkah selanjutnya melike sebanyak mungkin. Seharian ku pakai jempolku hanya untuk melike tulisan teman-teman baruku, bukan hanya lewat beranda aku ngelike khusus ke linimasa mereka masing-masing, boomlike ceritanya.

Kulakukan semua itu tanpa membaca sedikitpun tulisan mereka, sungguh satu tindakan konyol dan bodoh. Kali ini aku termakan ucapanku sendiri, aku sedang tuna waras. Tapi tak mengapa, kalian tentu pernah dengar teori ini “kadang untuk menjadi pintar kita harus melakukan hal-hal bodoh.”

Aku menunggu saat mereka akan melakukan hal yang sama, memboomlike semua tulisanku. Tapi tak ada sesosok pun yang melakukannya. Tiba-tiba angka 1 muncul di messenger, ku buka...

“Nggak ada kerjaan apa ngelike status orang mulu? Kotor nih notifku.” Belum sempat kubalas, akunnya menghilang. Aku diblokir! Teman baruku berkurang. Ah, sekejam itukah dunia?

Esok harinya, aku hentikan program melike. Rencana berikutnya ku lakukan, mengomentari sebanyak-banyaknya tulisan orang. Namun, sepertinya kesialan telah bersepakat dengan iblis untuk terus mengikutiku.

“Keren” komenku di salah satu kiriman.

“Keren apanya?” balasnya disertai emot seperti orang kebingungan.

“Tulisannya keren” jawabku penuh semangat.

“Berikan aku alasan kenapa tulisanku keren?” kali ini emotnya marah.

Aku bingung mau jawab apa, sebab aku tak membaca tulisan itu sama sekali, komen aja. Tapi bukankah seharusnya dia senang karena aku telah memujinya, dan seyogyanya mengucapkan terimakasih padaku? Aku tak langsung membalas, ku sempatkan sejenak waktu untuk membaca tulisannya.

Aku kaget, ternyata tulisan itu berisi tentang perceraiannya dengan suaminya yang tinggal menghitung hari, tentang bagaimana masa depan anak-anaknya, dan kekhawatiran biaya hidup setelah diceraikan suaminya. Sialnya itu realita, sama sekali bukan fiksi.

Itu berarti ,aku baru saja mengaminkan perceraiannya. Untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan, ku hapus komentarku, akunnya pun lenyap. Kali ini aku yang memblokir. Temanku berkurang lagi.

Selanjutnya, aku melakukan langkah keempat seperti yang dipetuahkan emak Googgle, menshare tulisan orang. Ku harap penulisnya senang karena aku telah ikut andil dalam memviralkan tulisannya. Dan sungguh diluar dugaanku...

“He! manusia tak berperasaan, kalau mau membagikan tulisan orang, minta izin dulu sama pemiliknya, dasar pencuri” ketus penulisnya di kolom komentar pada tulisan yang ku bagikan.

Aku tak menyangka dia “segembira” itu, padahal tulisannya tak pantas disebut tulisan dan tak bisa diakui sebagai milik siapapun. Karena siapapun bisa menulis hal yang sama tanpa melihat atau menyontek tulisan orang lain.

Kalian tahu tulisan apa yang ku bagikan itu? hanya sebuah tulisan singkat, judulnya hujan, isinya hujan juga. Kalian paham sekarang? bahwa tulisan yang ku bagikan tersebut adalah tulisan HUJAN, ya! hujan doang. Lagi pula aku tak menghilangkan apapun disitu, termasuk identitasnya, wong aku menekan tombol share.

Aku coba membela diri, dengan berusaha menjelaskan selogika mungkin tentang sikapku yang menurutnya mencuri itu. Bukannya paham, dia malah memblokirku. Lagi-lagi temanku berkurang.

Aku jadi kesal sama semua orang, sama diriku, terutama sama emak Googgle. Aku tak percaya lagi dengan dukun dunia maya sialan itu. Namun, aku tak putus asa. Aku terus memutar otak, mencari-cari cara agar tulisanku bisa direspons banyak orang. Dan...,

Tiba-tiba kepalaku bercahaya, ada lampu berpijar-pijar di otakku. Aku menemukan ide, yaitu mengirim tulisan yang mengandung unsur-unsur negatif, seperti menghina, memaki, menyebar kebencian, lebih tepatnya kurang ajar. Bukankah tulisan seperti itu yang paling rame di Negeri maya ini? Tak buang tempo, secepat kilat ku tuangkan ide itu di kotak “Apa yang anda pikirkan sekarang?” lalu cepat-cepat ku kirimkan ke publik.

Tiga menit tak ada apa-apa. Aku gugup, bukan gugup ada yang marah atau tersinggung atau apalah itu, aku tak peduli akan hal itu. Aku gugup karena untuk pertama kalinya tulisanku akan banyak yang respons, baik like maupun komen, dan akan tak terhitungkan mereka yang membagikan, sebab tulisanku ini sangat sensitif, propaganda, adu domba, dan tak beradab sama sekali. Saking sensitifnya tak kuasa aku menuliskannya disini.

Dan apa yang terjadi? Tulisanku hilang, teman-temanku hilang, akun fbku hilang. Aku diblokir FB.

Setelah 24 jam menghilang entah kemana, fbku kembali aktif. Namun, aku mendapat peringatan keras dari pihak fb untuk tidak lagi menulis seperti itu. Tapi, sebagai orang yang telah terobsesi dengan LKS, aku tak peduli. Kali ini ideku lebih gila lagi.

Aku memplagiasi satu tulisan yang ku anggap menarik. Tak tanggung-tanggung, tulisan orang terkenal di dunia maya yang ku copas atas nama diriku. Kali ini aku berhasil, berhasil membuat diriku berurusan dengan pihak berwajib.

...........................

Kucurahkan keluh kesah tentang tulisanku kepada pacar, nenek, ibu, ayah, juga adikku ba’da makan malam bersama di rumahku. Mereka merespons dengan pendapat-pendapat yang aneh dan menjengkelkan.

“Kamu sih kebanyakan mantan,” kata pacarku. Aku menatapnya jengkel, isyarat aku lagi serius. “kamu pikir aku bercanda?” balas tatapannya.

“Perbanyak sedekah” ucap nenek, serius. Nek, Ini bukan mau cari pahala.

Ibu, lain lagi, “Iklannya kebanyakan,” katanya. Nah, begini nih kalu kebanyakan nonton sinetron.

Ayah diam, sambil matanya menerawang keatas seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius. Sesekali ia menatap ibu, lalu menatapku dan kembali menerawang. Aku menatapnya penuh harap, semoga ayah bisa memberi komentar yang masuk di akal.

“Ya!” ucap ayah tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya.

“Ya apa, yah? Aku penasaran.

“Ya... itu, seperti kata ibumu barusan, kebanyakan iklannya.” Ah, aku lupa, ternyata ayah juga pesinetron yang akut.

Adikku, aku menatapnya remeh, tak usah kau berpendapat, aku tak butuh! Anak kecil tahu apa soal tulisan? Dia tak peduli dan berkicau: “kurang micin kali, kak.” Semua tertawa, kecuali aku. “Dasar, generasi micin” batinku.

“Kakak kurang tampan kali,” ucapnya lagi dengan nada berat, seolah dia tak tega mengatakan kebenaran bahwa aku ini jelek, dan itulah yang menjadi penyebab tulisanku tak dihiraukan. Mereka kembali tertawa, aku kian jengkel.

“He, makhluk astral, emang ada hubungannya tulisan sama ketampanan, hah? Tanyaku lewat mata, sebab kalau dia dengar, pasti wajah tembemnya yang sok imut itu akan berubah aneh seperti tak percaya, bahwa kakaknya yang sudah jelek ini ternyata juga bloon.

“Berhentilah menulis!” ucap kakekku tiba-tiba yang sedari tadi mendengar pembicaraan kami. Aku tak pernah memintainya pendapat, karena sepengalamanku dia tak pernah peduli denganku, tepatnya dengan tulisanku. Setiap kali aku mau bertanya, dia selalu tak acuh.

Aku kaget, bukannya memotivasi dia malah secara terang-terangan dan tanpa dosa menjatuhkan cita-citaku sebagai penulis. Semuanya diam, aku pun diam.

Tanpa ada yang meminta, kakek melanjutkan...

“Cu, selama ini kau terus menulis, tapi kau lupa satu hal...,” kakek serius, aku bingung, semuanya bingung. Kami saling pandang dalam diam, tak ada yang berani menyela.

“Membaca, cu, membaca. Kau lupa membaca. Kau terlalu sibuk dengan tulisanmu, cu”

“Kau harus selalu ingat, bahwa wahyu pertama kali turun adalah bacalah! bukan tulislah!” membaca, cu. Maka bacalah, dan kau akan pintar menulis!” sungguh kalimat yang dalam, dramatis, filosofis, misterius. Aku tercengang, yang lain ikut-ikutan.

Meskipun aku belum sepenuhnya paham, tapi aku yakin kalimat itu mengandung pelajaran yang sangat penting bagiku sebagai seorang yang sok penulis. Tapi aku heran darimana kakek bisa mendapatkan kalimat sakti mandraguna begitu.

“Membaca cu, kakek sering membaca” ucapnya seperti tahu keherananku.

Berlanjut......

By: Saf Rin Karim
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top