Telah Terbiasa - Saifullah

Telah Terbiasa

Suasana ruang besuk terlihat ramai saat aku melangkah masuk. Petugas yang berjaga di pintu sel lapas sempat memeriksa dengan tangannya dari atas sampai ke bawah, lalu meloloskan aku masuk untuk mengambil rompi berwarna orange khas napi.

Terlihat di sudut ruang berbentuk aula dengan banyak bangku terisi orang-orang berbagai usia di atasnya. Ada orangtua, pemuda, para perempuan, juga anak-anak yang masih berada dalam gendongan ibunya.

Masing-masing kerumunan terselip satu orang berompi orange. Dengan berbagai ekspresi. Ada tawa bahagia karena sebuah pertemuan setelah berpisah sekian lama, ada isak tangis, juga ada ekspresi kosong. Memperlihatkan betapa berat beban mereka yang harus merasakan saat ada anggota keluarga yang terseret masuk ke dalam penjara.

Seperti ibuku. Wanita separuh baya yang duduk terdiam sambil memandangi ke halaman lapas dari balik jendela kaca.

Terlihat matanya berkaca, beberapa kali menyeka air dari sudut mata.

"Ma." Aku memanggil lirih saat kami sudah dekat.

Cepat, mama menoleh. Sekali lagi diusap sudut matanya dengan tissu yang menggumpal.

"Fer, udah makan?" Suaranya terdengar serak menyambut kedatanganku.

"Udah, Ma."

Aku duduk di sebelahnya. Sejenak kami terdiam. Hanya mengawasi sekeliling. Suara para pengunjung terdengar ramai bergumam.

"Mama bawa uang nggak?" tanyaku.

"Cuma tiga ratus ribu, Fer." Mama menunjukkan uang yang digenggamnya bersama tissu.

"Kurang, Ma."

"Adanya segitu, Fer. Minggu depan kalo Mama besuk lagi ya. Mama bener nggak punya lagi ..."

Berat hati aku mengangguk. Sambil menyelipkan uang tadi di lipatan kecil celana jeans agar tidak ketahuan petugas lapas.

"Nggak ada yang ke sini?" Akhirnya aku bertanya.

Mama menggelengkan kepala.

"Papa?"

"Kamu kan tau bulan-bulan ini papa sering sakit-sakitan."

"Yang lain?"

"Entah, saudara macam apa mereka. Saat kita kesusahan tak ada satu pun yang datang membantu. Teman-teman juga tidak ada yang bisa diharapkan. Semua pergi menghilang!"

Aku tersenyum kecut. Karena sebenarnya kami berdua tahu apa alasan mereka.

Mereka semua sudah merasa lelah ... dan muak. Telah berkali memperingatkan. Dari nasehat halus hingga teguran keras. Dari yang berupa sindiran hingga labrakan.

Tapi akhirnya menyadari semua kata-kata mereka telah diacuhkan.

Karena itu saat aku akhirnya terlibat kasus penipuan uang dalam jumlah ratusan. Lalu akhirnya tertangkap dan dipidanakan. Tak ada saudara atau teman yang datang setiap kali persidangan. Malah kudengar banyak dari mereka yang berkata itu memang hukuman yang pling pantas.

Untuk penipu sepertiku.

***

Setelah lulus aku kuliah di kota lain. Di sana aku tinggal di tempat kost bersama dua orang teman lain.

Mereka juga hidup dalam keluarga berekonomi pas-pasan. Tapi penampilanku setidaknya jauh lebih meyakinkan.

"Jadi bokap lu punya usaha meubel besar di kampung?" Andi membesarkan mata setelah mendengar ceritaku.

"Yo'i!"

"Keren! Pemasarannya sampe ke Singapura sana?"

"Iya. Ke Korea dan Taiwan juga!" Aku menyahut, "Oh ya, Bro. Gua pinjem duit dulu ya. Papa belum transfer nih! Besok gua ganti!"

Mereka bertatapan sebentar. Tapi kemudian Andi menganggukkan kepala.

Sehari, dua hari, sampai berminggu kemudian aku pura-pura lupa. Lalu setelah Andi berkali mendesak, akhirnya aku mengembalikan uang yang kupinjam setelah meminta Ningsih, kekasihku untuk membayarkan.

Bulan-bulan berikutnya, aku mulai berani meminjam uang dalam jumlah lebih besar dan tak mengembalikan.

***


Sejak kecil, yang kutahu adalah bahwa jika aku bisa melakukan sesuatu dengan bagus, maka semua orang akan memuji.

Lalu mama tersenyum bangga sambil menambahi beberapa kata yang kurang.

"Iya, di rumah memang Ferry rajin belajar. Makanya dia bisa rangking satu di kelas." Kurang lebih seperti itu yang ditambahkan mama. Setelah aku menjawab pertanyaan Tante Puji tentang peringkat ke berapa aku kenaikan kali ini.

"Ferry mah memang pinter! Nggak heran tiap tahun jadi juara kelas," sela Tante Atin. Lalu pandangannya tertuju ke arah Dio yang dari tadi hanya diam. "Tuh Yo, jadi anak itu kaya Ferry. Rajin belajar! Nah si Dio mah hari hari cuma main PS aja sama abangnya!"

"Sama, Bu! Anakku pun males kalo suruh belajar. Makanya nggak dapet rangking!" Tante Anggi menimpali.

Kulihat mama tertawa kecil. Sementara aku merasa bangga karena dipuji-puji.

"Dikasih hadiah apa sama papanya?" tanya Tante Atin ingin tahu.

Aku menoleh ke arah mama. Seperti biasa, mama yang menjawab pertanyaan yang susah untukku.

"Ah, cuma dikasih tab harga 4 juta, Jeng. Karena memang sudah janji dari masuk semester kemarin ...." Mama tertawa lagi.

"Wah, keren, ya!" Terdengar puja-puji mereka lagi.

Padahal aku dan mama jelas tahu. Aku cuma menduduki peringkat ke-lima. Dan tak ada hadiah apapun dari papa. Walaupun tidak ada kata sepakat merencanakan, tapi aku tahu jika aku bilang pada mereka sebenarnya mendapat peringkat berapa, tak akan ada yang memuji. Termasuk mama di hadapan mereka.

***

"Ini apa, Fer?" Mama bertanya saat merogoh ke dalam tas sekolah dan mendapati pensil warna merk mahal di dalamnya.

Aku terdiam. Itu milik Azahra, teman sebangku. Aku suka, jadi aku membawanya pulang. Tanpa sepengetahuan Azahra.

Kulihat mama memeriksa pensil warna itu. Tapi dia tidak mengatakan apapun tentang itu.

"Ya udah, belajar lagi." Hanya itu yang ia ucapkan sebelum berlalu keluar kamar.

Aku tersenyum senang. Ada beberapa ibu teman yang datang ke sekolah untuk mengembalikan barang-barang yang terbawa di tas anak-anak mereka. Ada yang hanya meminta maaf pada anak yang barangnya diambil, tapi ada juga yang sambil menjewer telinga anaknya sendiri.

Bukankah itu memalukan? Untung saja mama tidak pernah melakukan itu. Aku masih ingat saat pertama kali aku membawa pulang penghapus milik teman.

Mama melihat, lalu menceritakannya pada ayah sambil tertawa. Ayah menatapku lalu menyuruh mengembalikan. Tapi mereka sama sekali tidak marah.

Beberapa waktu berikutnya aku membawa pulang pensil dan peruncing. Masih sama. Mama melihat tapi tidak marah juga.

***
Setiap hari, aku selalu mendengar hal-hal besar diceritakan mama pada para tetangga atau saudara. Tentang kesempurnaanku, tentang lancarnya keuangan kami, juga tentang naiknya pekerjaan mama.

Aku tahu itu tidak benar. Nyatanya di rumah kami biasa saja. Makan pun seadanya. Bahkan beberapa kali aku mendengar papa mengeluh masalah keuangan. Tapi aku juga tahu, di depan mereka semua aku hanya harus berpura-pura.

Tapi beberapa kali juga kebohongan mama, atau kebohonganku ketahuan. Cukup memalukan. Tapi sesuatu yang sudah dilakukan secara terus menerus, akan susah menghentikannya.

Lalu tercipta kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi. Mungkin mereka masih percaya, atau mungkin juga tidak. Itu urusan mereka.

Kadang terlihat beberapa tetangga yang semula dekat mulai sedikit menjauh. Atau bicara seperlunya saja pada mama. Tapi mama adalah wanita yang mudah bergaul dengan siapa saja. Seringkali dia pergi ke perkumpulan arisan komplek lain dan kembali bicara yang bukan-bukan. Sementara aku masih mengikuti.

Semua orang memuji kegembiraan. Semua orang iri pada kesuksesan orang lain. Dan mereka yang terlihat bahagia dan sukses, pasti dengan mudah akan diberi kepercayaan.

Dari situ aku meniru mama bagaimana cara memanipulasi. Sementara papa adalah orang yang tidak terlalu peduli.

By: Patrick Kellan
Reactions:
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top